CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai penyusutan kelas menengah bukan semata-mata menggambarkan masyarakat yang jatuh miskin.
Fenomena ini juga menunjukkan semakin banyak rumah tangga yang bergeser ke kelompok yang lebih rentan menghadapi tekanan ekonomi.
Jumlah penduduk kelas menengah Indonesia, menyusut tajam dari 60,8 juta orang pada 2018, menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
“Penyusutan bukan cuma cerita tentang orang yang langsung jatuh miskin, melainkan tentang semakin banyak rumah tangga yang tidak mampu mempertahankan posisi ekonominya,” ujar Yusuf, dilansir Inilah, Minggu 18 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pergeseran terlihat dari membengkaknya kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class yang kini mencapai sekitar 142 juta orang.
Kelompok ini berada satu tingkat di bawah kelas menengah sehingga relatif lebih rentan terhadap kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, hingga tekanan utang.
Katanya, persoalannya bukan hanya berkurangnya kelas menengah, melainkan besarnya kelompok masyarakat yang belum memiliki fondasi ekonomi kuat untuk menghadapi guncangan.
Menurut Yusuf, akar persoalan penyusutan kelas menengah terletak pada stagnasi pendapatan dan rendahnya kualitas pekerjaan.
Pandemi Covid-19 mendorong banyak pekerja beralih ke sektor informal dengan pendapatan lebih rendah, sementara pemulihan pekerjaan formal belum sepenuhnya terjadi.
Pada 2024, hanya sekitar 59 persen pekerja kelas menengah yang memiliki pekerjaan formal.
“Banyak pekerjaan baru mampu menopang kebutuhan sehari-hari, tetapi belum memberi pendapatan cukup untuk membangun tabungan, membeli aset, atau menghadapi guncangan,” jelasnya.
Kondisi ini memperlihatkan tersedianya pekerjaan belum tentu menjamin rumah tangga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Pekerjaan dengan pendapatan terbatas dan minim kepastian membuat masyarakat sulit menyisihkan uang untuk tabungan maupun investasi jangka panjang.
Akibatnya, ketika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok atau kehilangan sumber penghasilan, ruang keuangan rumah tangga menjadi semakin sempit. Pendapatan yang semestinya digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup justru habis untuk mempertahankan konsumsi sehari-hari.
Tekanan ekonomi juga terlihat dari kesenjangan antara pendapatan individu dan kebutuhan satu rumah tangga.
Yusuf menyebut ambang pengeluaran kelas menengah berada di kisaran Rp2,13 juta per orang per bulan. Sedangkan rata-rata gaji lulusan perguruan tinggi pada November 2025 tercatat sekitar Rp4,63 juta.
Angka ini sekilas terlihat memadai jika hanya dihitung berdasar kebutuhan satu orang. Namun, situasinya berbeda ketika satu pekerja harus menanggung pasangan dan seorang anak.
Dalam kondisi ini, pendapatan Rp4,63 juta harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan tiga orang. Pengeluaran per anggota keluarga pun berpotensi berada di bawah ambang kelas menengah.
“Tekanan ini semakin besar karena biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, dan cicilan naik lebih cepat daripada pendapatan,” tegas Yusuf.
Kelompok kelas menengah juga menghadapi persoalan dalam mengakses perlindungan sosial. Sebagian rumah tangga tidak lagi memenuhi kriteria penerima bantuan sosial, tetapi belum memiliki tabungan maupun aset yang cukup untuk menghadapi guncangan ekonomi.
Laju penyusutan kelas menengah juga menunjukkan perkembangan yang perlu diwaspadai.
Yusuf mencatat, jumlah kelas menengah pada 2025 berkurang sekitar 1,1 juta orang, jauh lebih besar dibandingkan penurunan sekitar 400 ribu orang pada 2024.
Pewarta: Puerto

















