CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Harga minyak dunia melonjak lagi sampai mendekati 110 Dolar AS per barel. Harga ini termasuk level tertinggi sejak Mei tahun 2026.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia mendorong investor kembali memburu minyak. Kondisi ini diperparah meningkatnya serangan infrastruktur energi.
Pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat, harga minyak mentah Brent naik 3,94 Dolar AS atau 3,7 persen menjadi 109,86 Dolar AS per barel.
Bahkan, sebelumnya sempat menyentuh 110 Dolar AS. Untuk minyak mentah West Texas Intermediate menguat 3,44 Dolar AS atau 3,5 persen menjadi 101,41 Dolar AS per barel.
Sepanjang pekan ini, harga Brent naik 4,9 persen, sedangkan WTI melonjak 10,4 persen.
Lonjakan ini dipicu kekhawatiran ihwal konflik di Timur Tengah yang kembali meluas dan mengancam kelancaran pasokan minyak global.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang mengarah ke Yanbu, kota pelabuhan di Laut Merah.
Pelabuhan ini menjadi jalur penting bagi Arab Saudi menyalurkan minyak ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Meski begitu, laporan awal menunjukkan tidak ada kerusakan pada infrastruktur Yanbu.
Risiko pasokan juga meningkat akibat serangan yang terus berlangsung di sekitar Selat Hormuz selama 10 hari terakhir.
Iran menyatakan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhannya dan pemberlakuan sanksi yang lebih ketat.
Dari Rusia, kekhawatiran pasokan bertambah setelah kilang minyak Ryazan menghentikan operasi pada salah satu unit utama penyulingan minyak mentah menyusul serangan drone pada Kamis.
Sebelumnya, Ukraina juga menyerang kilang minyak Rusia, sehingga menambah ketidakpastian terhadap pasokan bahan bakar, terutama solar, ke pasar global.
Untuk meredam tekanan pasokan, Badan Energi Internasional menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel bahan bakar ke pasar.
Paman Sam juga menawarkan pertukaran hingga 17 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategisnya.
Pewarta: Widy

















