CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Ratusan ribu orang di berbagai negara Eropa turun ke jalan. Aksi massa tak terbendung menuntut kinerja pemerintahan.
Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah negara Eropa terjadi memprotes tingginya kenaikan biaya hidup, mahalnya harga perumahan, dan ketidakpuasan layanan publik.
Akumulasi kekecewaan ini berubah menjadi aksi massa yang memicu kemarahan masyarakat.
Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi terpisah di Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal pada Sabtu 17 Oktober 2026. Aksi ini memperlihatkan besarnya tekanan ekonomi yang kini dihadapi pemerintah di kawasan terkait.
Melansir Al Jazeera demonstrasi di empat negara itu berlangsung terpisah dan tidak berada di bawah satu koordinasi gerakan.
Namun, ada kesamaan tuntutan soal biaya hidup, kualitas layanan publik, dan ketidakpastian ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Prancis mengalami salah satu hari demonstrasi paling bergolak dalam beberapa dekade terakhir.
Associated Press melaporkan sekitar 550 ribu hingga 800 ribu orang mengikuti aksi di sekitar 110 lokasi, berdasarkan perbedaan perkiraan pemerintah dan serikat pekerja.
Demonstrasi berlangsung di Paris, Lyon, Marseille, Bordeaux, Limoges, dan sejumlah kota lainnya. Pesertanya terdiri atas pelajar, mahasiswa, anggota serikat pekerja, serta masyarakat yang menuntut perbaikan daya beli dan peningkatan kualitas layanan publik.
Aksi berkaitan meningkatnya ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan dan persoalan ekonomi.
Termasuk keluhan kekurangan guru, keterbatasan fasilitas sekolah, dan pembiayaan pendidikan berkembang menjadi tuntutan lebih luas soal keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Di Paris, demonstrasi berubah menjadi bentrokan ketika sebagian peserta melemparkan benda ke arah aparat keamanan.
Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok yang melakukan kekerasan, sementara sejumlah kendaraan dan pertokoan mengalami kerusakan.
Kerusuhan juga dilaporkan terjadi di beberapa kota lain.
Associated Press mencatat kasus pembakaran, penjarahan, dan serangan terhadap fasilitas publik, meskipun sebagian besar demonstrasi di seluruh Prancis berlangsung tanpa kekerasan.
Pihak berwenang melaporkan sekitar 400 penangkapan dalam pembaruan yang dikutip Associated Press. Angka ini jumlah yang dilaporkan pada tahap pemberitaan itu, bukan angka akhir keseluruhan penangkapan.
Pemerintah Prancis mengecam tindakan perusakan dan menegaskan bahwa demonstrasi damai tidak boleh dijadikan alasan untuk menyerang fasilitas publik.
Peristiwa ini mengingatkan masyarakat kepada gerakan rompi kuning atau gilets jaunes yang mengguncang Prancis sejak 2018.
Gerakan bermula dari penolakan terhadap kenaikan pajak bahan bakar sebelum berkembang menjadi protes mengenai daya beli, ketimpangan ekonomi, dan kebijakan pemerintah.
Meski terdapat kemiripan persoalan, demonstrasi Oktober 2026 tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan gerakan rompi kuning. Aksi terbaru melibatkan kelompok pelajar dan serikat pekerja dengan tuntutan yang juga menekankan persoalan pendidikan serta layanan publik.
Prancis menjadi pusat demonstrasi terbesar dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.
Sebagian besar aksi berlangsung damai, tapi kerusuhan pecah di sejumlah kota setelah kelompok demonstran bentrok dengan polisi, merusak bangunan, dan melakukan penjarahan.
Mereka juga membakar beberapa bangunan.
Di Italia, demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup berubah menjadi kerusuhan di pusat Kota Milan.
Di Belgia, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan aksi massa di Brussels.
Begitu pun puluhan ribu warga Portugal yang juga berunjuk rasa menuntut kenaikan upah dan perumahan yang lebih terjangkau.
Gelombang protes ini terjadi saat inflasi di kawasan euro kembali meningkat.
Data terbaru Eurostat yang diterbitkan pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan inflasi tahunan kawasan euro mencapai 3,8 persen pada September, naik dari 3,2 persen pada Agustus dan 2,2 persen pada September tahun sebelumnya.
Kenaikan harga energi menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi kawasan euro.
Kondisi ini memperberat pengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan tempat tinggal.
Milan Kerusuhan
Kerusuhan juga terjadi di pusat Kota Milan, Italia, ketika demonstrasi yang semula berlangsung damai berubah menjadi bentrok antara kelompok demonstran bertopeng dan aparat keamanan.
Aksi mereka menyuarakan penolakan terhadap perang dan meningkatnya biaya hidup.
Menurut laporan Associated Press sejumlah perusuh melemparkan batu dan benda keras lainnya ke arah polisi. Mereka juga membakar barikade yang dibuat menggunakan meja restoran serta melakukan penjarahan terhadap pertokoan.
Situasi memburuk di kawasan Piazza del Duomo, salah satu pusat wisata dan perdagangan paling terkenal di Milan. Aparat keamanan mengosongkan kawasan tersebut dan pusat perbelanjaan di sekitarnya untuk mencegah meluasnya kerusuhan.
Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan massa. Sedikitnya dua anggota polisi mengalami luka, sementara sekitar 50 demonstran, termasuk sejumlah anak di bawah umur, ditahan berdasarkan laporan media Italia yang dikutip Associated Press.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam tindakan kekerasan tersebut. Ia menegaskan kebebasan menyampaikan pendapat tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan, penjarahan, atau perusakan.
Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga mengecam kerusuhan, meskipun mengakui bahwa persoalan yang melatarbelakangi demonstrasi layak mendapat perhatian. Menurutnya, tuntutan masyarakat tidak membenarkan tindakan kekerasan yang merugikan keselamatan publik.
Pewarta: Muchlis

















