CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Kaltim, ada peningkatan tren suspek ISPA sekitar 10-20% sejak akhir Juni hingga 21 Oktober 2026.
Beberapa wilayah dengan kontribusi kumulatif kasus tertinggi ISPA umum meliputi Kota Balikpapan dengan 95.103 kasus, Samarinda 68.603 kasus, dan Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 44.532 kasus.
Menukil data pemantauan penyakit lewat District Health Information System 2 (DHIS2), total penyakit ISPA yang berkaitan situasi karhutla secara keseluruhan di Kaltim, sekitar 33.166 kasus.
Tiga kabupaten/kota dengan distribusi kasus ISPA situasi karhutla terbanyak yang terlapor, yakni, Balikpapan dengan 12.098 kasus, Paser 4.251 kasus, dan Samarinda 4.183 kasus.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Dalam keterangan resmi pada 15 Oktober 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara khusus meminta bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, dan orang dengan penyakit penyerta membatasi paparan asap.
Jika terpaksa bepergian, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, terutama respirator N95 jika tersedia, serta melindungi mata dan kulit.
Langkah ini penting karena partikel halus PM2,5 dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk gangguan kesehatan.
Berikutnya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. Saat asap pekat berada di luar, tutup pintu dan jendela, serta gunakan penyaring udara jika tersedia.
Masyarakat juga perlu memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi sebelum memutuskan beraktivitas di luar.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menekankan pentingnya mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika polusi meningkat, menggunakan masker yang terpasang rapat, dan menjaga kualitas udara dalam ruangan.
Warga juga disarankan menghindari olahraga berat di luar rumah selama kondisi udara tidak sehat karena aktivitas tersebut dapat meningkatkan jumlah udara tercemar yang terhirup.
Masyarakat yang harus bekerja di luar ruangan disarankan mengurangi durasi paparan asap, menggunakan masker respirator yang sesuai dan terpasang rapat, serta menghindari lokasi dengan asap paling pekat jika memungkinkan.
Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan setara dengan respirator yang dirancang menyaring partikel halus.
Setelah kembali ke rumah, warga dapat mencuci tangan dan wajah, membersihkan diri, serta mengganti pakaian yang terpapar asap.
Masyarakat juga perlu menghindari merokok di dalam rumah karena asap rokok dapat menambah pencemaran udara di ruang tertutup.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap gejala seperti batuk, tenggorokan terasa perih, iritasi mata, dan sesak napas.
Kemenkes mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan setelah terpapar asap.
Warga yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebiruan pada bibir, atau penurunan kesadaran harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau penyakit paru dan jantung memerlukan perhatian lebih karena paparan polusi dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi antibiotik atau obat tertentu tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
Untuk mendukung penanganan dampak kesehatan, Dinkes Kaltim pada September 2026 menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Pemerintah daerah juga menyiapkan peralatan pendukung oksigen dan memperkuat kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di wilayah yang berpotensi terdampak karhutla.
Fasilitas tersebut bagian dari upaya antisipasi gangguan pernapasan, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis bagi warga yang mengalami gejala.
Masyarakat dapat menghubungi puskesmas atau dinas kesehatan setempat untuk mengetahui layanan yang tersedia di wilayah masing-masing.
Pencegahan ISPA di tengah karhutla membutuhkan kerja sama masyarakat dan pemerintah. Warga diimbau memantau informasi kualitas udara, mengurangi paparan asap, menggunakan pelindung pernapasan yang tepat, dan segera mencari pertolongan ketika muncul gejala.
Di sisi lain, pengendalian sumber kebakaran tetap menjadi langkah mendasar untuk mengurangi paparan polusi dalam jangka panjang.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api serta segera melaporkan kebakaran kepada petugas.
Pewarta: Ruslan
















