CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur mencatat sebanyak 1.470 kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi sepanjang 2026.
Adapun total luas area terdampak mencapai 6.333 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi mengatakan peningkatan kejadian karhutla menjadi perhatian, karena kondisi cuaca kering akibat fenomena El Nino masih berlangsung.
“Kalau kita lihat, sampai kemarin sudah mencapai 1.470 titik kejadian kebakaran, bukan lagi hotspot. Luasannya mencapai 6.333 hektare,” ujar Buyung lewat keterangannya, pada Selasa 22 September 2026.
Menukil data BPBD Kaltim, wilayah dengan luasan kebakaran terbesar berada di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas terdampak sekitar 2.026,02 hektare dari 263 kejadian.
Lalu, Kabupaten Kutai Barat mencatat luas terdampak sekitar 1.126,76 hektare dengan 154 kejadian, disusul Kabupaten Paser dengan 1.105,75 hektare dari 364 kejadian.
Kabupaten Berau sekitar 820,31 hektare dari 165 kejadian.
Ia menjelaskan berdasarkan jenis area yang terbakar, mayoritas kebakaran terjadi pada kawasan lahan non-hutan.
Dari total luas terbakar sekitar 6.276, 20 hektare, area lahan mencapai 4.511,50 hektare, kemudian hutan sekitar 1.726,20 hektare, dan kebun sekitar 38,50 hektare.
Ia berujar, kondisi kekeringan yang terjadi membuat vegetasi menjadi sangat mudah terbakar.
“Kondisi kemarau dengan El Nino menyebabkan vegetasi di bawah menjadi sangat kering sehingga mudah terbakar,” terangnya.
Dampaknya, bukan hanya kebakaran, tapi juga muncul gangguan asap dan ancaman terhadap sektor pertanian. BPBD juga mencatat tren peningkatan kejadian pada September 2026.
Berdasarkan data hingga 20 September, total hotspot yang terpantau mencapai 25.576 titik, dengan kategori hotspot tertinggi mencapai 1.270 titik, kategori medium 22.622 titik dan kategori rendah 1.684 titik.
Sedangkan jumlah kejadian kebakaran sejak Januari hingga September mencapai 1.451 kejadian.
Buyung berujar, dampak karhutla tidak hanya terlihat dari luas area terbakar, tetapi juga terhadap kualitas udara.
Asap dari kebakaran di sejumlah wilayah dapat bertahan di atmosfer karena kondisi cuaca kering dan minim hujan.
Iamenilai dampak asap ini multidimensi. Tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu penerbangan.
“Termasuk aktivitas pendidikan, dan kegiatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pewarta: Widy

















