CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Lebih dari dua bulan, langit Kalimantan masih berkabut.
Sebagian masyarakat masih harus menggunakan masker di ruang terbuka.
Masyarakat masih harus menjalani hari-hari dengan udara yang berisiko, situasinya belum benar-benar pulih.
Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meninggalkan dampak yang kian terasa bagi masyarakat.
Dampak paling nyata tampak di sektor kesehatan.
Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Agustus hingga 21 September 2026.
Dari jumlah itu, 40.363 penderitanya anak balita. Kasus ini tersebar di tujuh provinsi terdampak karhutla, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Asap yang semula terpusat di tiga provinsi prioritas, yakni Kalbar, Kalsel, dan Kalteng, kini merembet ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Di Kaltim, kabut asap terpantau sejak 17 September 2026.
Masyarakat Balikpapan Kaltim, menggambarkan langit yang abu-abu sepanjang hari dan bau jelaga menyengat saat pagi.
IQAir mencatat indeks kualitas udara Balikpapan sempat menyentuh angka 142 pada 18 September, kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Di Ketapang, Kalimantan Barat, sejumlah sekolah kembali menerapkan belajar dari rumah setelah sempat beberapa hari menggelar tatap muka.
Sebab kabut asap dinilai makin parah dan titik api masih menyala di beberapa lokasi, termasuk kawasan hutan kota.
Warga Kubu Raya, Kalimantan Barat, bernama Nanta (37), sudah dua bulan hidup di bawah kabut asap.
Ia tetap bekerja, tetapi mengaku khawatir terhadap kesehatannya dalam jangka panjang. Menurutnya, warga yang tetap beraktivitas bukan berarti keadaan baik-baik saja.
“Kehidupan kami tidak normal,” ujarnya, dilansir Kompas, Sabtu 26 September 2026.
Pernyataan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto soal kehidupan warga yang disebut berjalan normal saat melapor kepada Presiden Prabowo pada Rabu (23/9/2026) sempat menuai sorotan.
Melalui akun Instagram pribadinya pada 25 September 2026, Suharyanto mmengklarifikas, yang dimaksud indikator terbatas aktivitas dasar masyarakat, seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan masyarakat, bukan kondisi kesehatan maupun kualitas udara.
Selama titik api belum padam dan hujan belum turun merata, kabut asap berpotensi terus membayangi Kalimantan.
Pemulihan tidak hanya soal memadamkan api, tetapi juga menangani warga yang jatuh sakit, memastikan anak-anak bisa belajar dengan aman, serta mencegah kebakaran serupa berulang tahun depan.
DSW

















