CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Sudah empat bulan berjalan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Sampai kini, karhutla belum sirna.
Bahkan, warga yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap dampak bencana ekologis itu terus bertambah.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pihaknya mencatat 10 provinsi di Indonesia yang masih terjadi karhutla.
Namun, karhutla secara signifikan terjadi di enam provinsi, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jambi, dan Kalimantan Timur.
“Dari total fire spot atau titik api, ada 864 titik, sedangkan luas lahan yang saat ini dalam penanganan ada 1.615 hektare,” ujarnya, saat konferensi pers daring, Rabu 4 November 2026.
Berton merinci, dari data per 3 November 2026, jumlah titik api di Kalimantan Tengah mengalami peningkatan 50 persen menjadi 425 titik.
Sedangkan jumlah lahan yang terbakar juga mengalami peningkatan menjadi sekitar 664 hektare.
Selain itu, di Sumatra Selatan terdapat 60 titik api dan 105 hektare lahan terbakar, Papua Selatan 120 titik api dan 203 hektare lahan terbakar.
Kemudian Nusa Tenggara Timur 24 titik api dan 58 hektare, Jambi 150 titik api dan 403 hektare terbakar, serta Kalimantan Timur 85 titik api dan 182 hektare lahan terbakar.
“Kami mengimbau kepada pemerintah daerah selagi masih bisa ditanggulangi, tentu kita mengupayakan secara maksimum upaya yang dilaksanakan,” imbuh Berton.
Ia menyatakan, saat ini pihaknya masih menyiagakan 47 unit alutsista untuk penanganan melalui udara. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) juga masih terus dilakukan, khususnya di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan.
Menurutnya, karhutla memiliki konsekuensi aspek lingkungan hidup, keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi.
Dalam penanganannya, risiko tersebut tercermin antara lain dari adanya petugas dan relawan yang gugur saat melaksanakan upaya pemadaman serta dampak paparan asap kebakaran terhadap kesehatan masyarakat, termasuk meningkatnya risiko gangguan ISPA.
Menurut catatan Kementerian Kesehatan, jumlah warga yang terserang ISPA akibat asap karhutla masih terus bertambah.
Berdasarkan data per 2 November 2026, secara akumulatif terdapat 401.586 orang di tujuh provinsi atau 63 kabupaten/kota. Tujuh provinsi itu adalah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati memahami kekhawatiran masyarakat akan dampak asap terhadap kesehatan, terutama tentunya bagi kelompok rentan.
Karena itu, pihaknya terus memastikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat untuk berjalan dengan optimal.
Katanya, berdasarkan data indeks standar pencemar udara (ISPU) per 3 November 2026 pukul 09.00, ada dua kabupaten/kota terdampak karhutla memiliki kategori kualitas udara berbahaya.
Selain itu, 15 kabupaten/kota kategori tidak sehat, 60 kabupaten/kota kategori sedang, dan 14 kabupaten/kota kategori baik.
“Ada dua wilayah yang perlu menjadi perhatian khusus yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur dengan nilai PM 2,5 sebesar 580, dengan Kota Palangkaraya sebesar 348. Keduanya ini sudah masuk dalam kategori berbahaya,” kata Widyawati.
Karena itu, Widyawati menyatakan, penanganan karhutla tidak hanya fokus pengendalian api. Penanganannya juga mencakup perlindungan masyarakat secara keseluruhan.
Ia menyebutkan, berdasarkan data Kemenkes per 2 November 2026 pukul 16.00, tercatat ada 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten kota. Dalam sehari itu, terdapat penambahan 3.906 kasus ISPA.
Tercatat 91.913 kasus pada kelompok usia balita 0 sampai 5 tahun, 87.704 pada anak usia 6 sampai 9 tahun, 56.092 pada kelompok usia lansia di atas 60 tahun.
“Selain itu ada 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja luar ruangan yang masuk ke dalam kelompok menjadi perhatian pemantauan,” ujar Widyawati.
Pihaknya telah sejak lama melakukan mobilisasi tenaga medis dengan berbagai kompetensi. Total sudah ada 9.355 orang tenaga medis yang diterjunkan ke tujuh provinsi terdampak, mulai dari dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga gizi, hingga pengemudi ambulans.
Kemenkes juga telah mendistribusikan logistik kesehatan secara masif ke tujuh provinsi terdampak karhutla.
Total sudah ada sekitar 3,8 juta masker, 280 unit oksigen concentrator, 41.000 pasang handscoon, 939 tabung oksigen serta ribuan alat pelindung diri atau APD, termasuk bantuan suplai air.
Pewarta: Puerto

















