CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation mengumumkan serangan menargetkan Bandara Internasional King Khalid pada Minggu 11 Oktober 2026.
Melansir Reuters, insiden itu menyebabkan seorang warga negara Pakistan meninggal dunia, selain itu 11 orang mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
Tak hanya di Riyadh, otoritas penerbangan sipil Arab Saudi juga mengumumkan serangan yang menargetkan Bandara Internasional King Fahd di Dammam, sekitar 411 kilometer dari Riyadh.
Pendataan kerusakan dan inspeksi keselamatan fasilitas bandara masih dilakukan.
Gangguan itu menambah dampak konflik Iran terhadap perjalanan udara di kawasan Timur Tengah. Akibat serangan itu bandara ibu kota Arab Saudi ditutup sejak serangan mendadak, yang menewaskan 13 orang.
Pembatalan dan penangguhan menunjukkan dampak konflik terhadap operasional penerbangan internasional di Timur Tengah.
Penumpang yang memiliki jadwal perjalanan ke Arab Saudi diimbau memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum berangkat.
Sejumlah maskapai internasional membatalkan atau menangguhkan penerbangan ke Arab Saudi dan negara-negara tetangganya menyusul serangan kelompok Houthi Yaman terhadap bandara Riyadh pada akhir pekan.
Meski begitu, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memastikan hingga saat ini tidak ada jamaah umrah asal Indonesia yang terdampak langsung serangan Houthi Yaman di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi.
Namun, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, Kemenhaj menyampaikan sejumlah imbauan penting. Bagi jamaah yang saat ini berada di Arab Saudi, Kemenhaj mengimbau agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
Sekaligus memfokuskan kegiatan pada pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah.
Jamaah juga diminta membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke luar wilayah tersebut.
Selanjutnya mematuhi seluruh arahan otoritas setempat, menghindari lokasi yang berpotensi rawan, dan terus berkoordinasi secara aktif dengan pihak travel.
Kemenhaj juga menginstruksikan seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah atau travel umrah untuk menjadikan keselamatan jamaah sebagai prioritas utama.
Pihak travel diwajibkan memantau kondisi jamaah, pendampingan, dan menginformasikan tiap perubahan jadwal serta langkah penanganannya, termasuk memastikan jamaah dapat menghubungi petugas saat membutuhkan bantuan di lapangan.
Terkait kondisi terkini para jamaah, Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha menegaskan pihaknya melakukan pemantauan data secara komprehensif.
Dari data yang terdaftar di sistem, hingga Minggu, 11 Oktober 2026, total ada 37 jamaah yang berangkat dan pulang melalui Bandara Internasional King Khaled, Riyadh.
“Berdasarkan komunikasi yang kami jalin bersama dengan Kementerian Luar Negeri serta KBRI Riyadh, alhamdulillah tidak ada jamaah umrah yang menjadi korban dalam serangan tersebut,” ujar Ichsan dalam keterangannya, Senin 12 Oktober 2026.
Bagi calon jamaah yang belum berangkat diharap memastikan kembali status penerbangan dan kesiapan perjalanan bersama pihak travel masing-masing.
Mereka juga diminta selalu mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah sebelum mengambil keputusan terkait keberangkatan.
Untuk keluarga jamaah di Tanah Air, Kemenhaj berpesan agar tetap tenang dan terus menjaga komunikasi dengan jamaah maupun pihak travel.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada informasi dari kanal resmi Kemenhaj, Kementerian Luar Negeri, KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, serta otoritas Arab Saudi.
Pewarta: Puerto Andika

















