CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan kapal pengumpul sampah multifungsi berbasis propulsi elektrik.
Langkah ini untuk mendukung pengelolaan Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya.
Teknologi tersebut sebagai solusi operasional terpadu untuk pembersihan sampah sekaligus mendukung riset dan konservasi di kawasan mangrove.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Abdi Ismail, mengatakan pengembangan kapal ini tindak lanjut kebutuhan mitra BRIN, yakni Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya dalam pengelolaan KRM Surabaya.
Menurutnya, permasalahan utama pengelola KRM Surabaya soal kebutuhan sarana operasional terpadu untuk membersihkan sampah di kawasan mangrove.
Sebab kawasan itu memiliki karakteristik perairan dangkal, berlumpur, serta kanal sempit dengan vegetasi sensitif.
Sebagai solusi, BRIN menawarkan kapal pengumpul sampah multifungsi yang dapat digunakan untuk pengangkutan timbunan sampah.
Sekaligus mendukung kegiatan penelitian di kawasan mangrove.
Kapal tersebut dilengkapi loader di bagian depan untuk memperluas jangkauan pengambilan sampah. Sampah yang diambil kemudian diangkut menggunakan konveyor ke ruang penampungan.
Sejalan visi KRM Surabaya yang mengedepankan green technology, kapal ini menggunakan sistem propulsi elektrik sehingga diharapkan dapat mengurangi emisi karbon dan meminimalkan kebisingan di kawasan konservasi mangrove.
“Propulsi elektrik memungkinkan operasi kapal menjadi lebih senyap, emisi karbon lebih rendah, dan biaya operasional lebih efisien,” jelas Abdi, dalam BRIN Enviro Talk ke-55, dikutip pada Ahad (22/5/2026).
Teknologi ini ditargetkan mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL) 7.
Selain meningkatkan efektivitas pembersihan sampah secara rutin, kapal juga dirancang mampu menjangkau area yang sulit diakses, seperti perairan dangkal dan berlumpur.
“Tim kami tahun 2026 ini mengajukan usulan proposal riset inovasi strategis,” ujar Abdi.
Secara desain, kapal memiliki panjang 8,3 meter, lebar 2,3 meter, dan draft operasional 0,4 meter sehingga sesuai untuk digunakan di perairan dangkal.
Bentuk lambung dirancang menyerupai penyu belimbing dengan bagian bawah meruncing agar tidak mudah terjebak lumpur.
Sistem penggerak utama menggunakan motor elektrik berdaya 10,5 kW dengan kapasitas angkut sampah mencapai 2,3 meter kubik.
Selain kapal induk, sistem ini juga dilengkapi kano elektrik sebagai kapal bantu untuk mendukung mobilitas peneliti di kawasan konservasi.
Kapal induk menggunakan bahan aluminium agar lebih tahan benturan. Sedangkan kapal bantu berbentuk kano menggunakan bahan fiberglass reinforced polymer (FRP).
Kano itu dapat digunakan menjangkau lokasi penelitian yang memerlukan kondisi tenang dan minim gangguan suara, misalnya pengamatan satwa di habitat mangrove.
“Kano elektrik memungkinkan peneliti mendekati objek penelitian dengan lebih senyap sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar,” tambahnya.
Seluruh sistem kapal, termasuk propulsi dan konveyor pengangkut sampah, menggunakan sumber energi listrik berbasis baterai.
Kapal juga dilengkapi panel surya sebagai pendukung pengisian daya, meskipun kapasitasnya masih terbatas.
Untuk mendukung komunikasi di kawasan yang minim sinyal telekomunikasi, kapal dilengkapi radio VHF.
Fasilitas ini memungkinkan peneliti yang menggunakan kano tetap dapat berkomunikasi dengan kapal induk saat berada di area penelitian.
Abdi menilai konsep kapal pengumpul sampah ini berpotensi diterapkan pada pengelolaan sampah di sungai perkotaan dengan karakteristik serupa.
Karena itu, tim peneliti BRIN mengajukan proposal riset inovasi strategis untuk mengembangkan teknologi kapal pengangkut sampah yang adaptif terhadap berbagai kondisi perairan di Indonesia.
Pewarta: Widy

















