CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Nilai tukar rupiah semakin menunjukkan performa mengecewakan dan mencetak rekor kelam.
Dari data Bloomberg pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.15 WIB, mata uang Garuda rontok 98 poin atau 0,56 persen ke level Rp17.512 per dolar AS.
Angka ini menandai posisi rupiah yang berada di titik terendah sepanjang sejarah.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat.
Bahkan, ia melihat ada potensi rupiah akan terus terperosok hingga menembus level Rp17.550 pada pekan ini.
Pelemahan tajam ini tidak lepas dari pengaruh geopolitik global yang kembali memanas.
Ia menyebutkan penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai yang diajukan Iran menjadi pemicu utama ketidakpastian di pasar.
Meski Pakistan dan Qatar telah turun tangan sebagai mediator, kebuntuan diplomasi justru melahirkan ketegangan baru.
“Secara tak terbuka pun serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” ujar Lukman di Jakarta, Selasa. Aksi saling serang di jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut membuktikan konflik belum benar-benar reda, meskipun ada narasi yang menyebut perang telah usai.
Kondisi ini memicu aksi ambil untung investor pada aset safe haven seperti dolar AS, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi internal, kondisi ekonomi domestik ternyata belum cukup kuat untuk menjadi penawar racun bagi rupiah.
Meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 tercatat cukup tinggi di angka 5,61 persen, dampaknya terhadap penguatan nilai tukar tergolong minim.
Lukman menganalisis bahwa struktur pertumbuhan ekonomi tersebut masih didominasi oleh konsumsi masyarakat dan belanja negara, bukan oleh aliran investasi langsung yang lebih berkualitas.
Ia menilai, tidak serta merta bisa membuat ekonomi membaik, membuat rupiah mengalami penguatan karena pembentukan dari pertumbuhan Q1 dari konsumsi masyarakat dan belanja negara.
“Sehingga tidak berdampak terhadap investasi meskipun investasi mengalami kenaikan,” ujar Lukman.
Saat ini pasar tengah bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi seiring dengan mendekatnya rupiah ke level psikologis baru di angka Rp17.550 per dolar AS.
Pewarta: Widy Pastowo

















