CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Nilai rupiah terus melemah, seakan tidak berdaya terhadap dolar Amerika.
Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik meski nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS.
Ia bilang, Pemerintah dan bank sentral selalu memantau kondisi pasar keuangan dan pasar obligasi. “Enggak perlu panik, karena pondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin,” tegas Purbaya pada awak media, Rabu (13/5/2026).
Menkeu Purbaya memastikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis 1998.
Ia menilai, pemerintah masih memiliki ruang menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar. “Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi. Kita akan cari langkah yang tepat,” papar Purbaya.
Nilai tukar rupiah semakin menunjukkan performa mengecewakan dan mencetak rekor kelam. Dari data Bloomberg pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.15 WIB, mata uang Garuda rontok 98 poin atau 0,56 persen ke level Rp17.512 per dolar AS.
Angka ini menandai posisi rupiah yang berada di titik terendah sepanjang sejarah.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat.
Bahkan, ia melihat ada potensi rupiah akan terus terperosok hingga menembus level Rp17.550 pada pekan ini. Pelemahan tajam ini tidak lepas dari pengaruh geopolitik global yang kembali memanas.
Rupiah pada perdagangan Selasa ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp 17.500-an atau menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
Namun, pada perdagangan Rabu, rupiah mulai menguat dan ditutup di kisaran Rp 17.476 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu keluarnya dana asing dari pasar domestik dan meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen pasar juga dipengaruhi hasil evaluasi MSCI terbaru terhadap pasar saham Indonesia.
Menkeu Purbaya memastikan pemerintah telah meminta jajaran terkait, termasuk Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, untuk menyiapkan langkah stabilisasi pasar.
“Ada langkah-langkah. Saya sedang perintahkan mereka untuk masuk, untuk keluarkan tindakan,” imbuh Purbaya.
Ia menambahkan kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan perbaikan dan investor asing mulai kembali masuk ke pasar domestik.
Meski begitu, pemerintah tetap memantau perkembangan pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Selain soal rupiah, Purbaya juga menanggapi surat Kamar Dagang China yang menyoroti hambatan investasi di Indonesia.
Ia menegaskan pemerintah tidak akan mengganggu investor selama menjalankan usaha sesuai aturan hukum di Indonesia.
Pewarta: Widy

















