CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Pergerakan mata uang Rupiah, kembali melemah. Rupiah bertekuk lutut di hadapan perkasa dolar Amerika Serikat.
Mengacu data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah ditutup melorot ke level Rp18.161 per dolar AS pada perdagangan hari ini, melemah dibanding posisi sebelumnya di Rp18.138 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar ini terjadi di tengah benturan sentimen global yang memanas dan rilis data ekonomi dalam negeri yang sebenarnya menunjukkan performa cukup solid.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menganalisa, tekanan terhadap mata uang rupiah sangat dipengaruhi dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Termasuk sinyal tajam kenaikan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed). “Pasar masih sangat mencermati event risk geopolitik,” kara Ibrahim, dikutip Senin.
Ia bilang, meski ada pembicaraan diplomasi antara Iran dan Qatar untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama pasar energi.
“Serangan pada kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak telah mendongkrak biaya pengiriman dan asuransi,” imbuhnya.
Eskalasi di Selat Hormuz ini kian pelik lantaran Pemilu AS yang membayang di depan mata turut membawa ketidakpastian tinggi, mengingat Donald Trump sempat mengisyaratkan opsi tindakan militer jika jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Bukan hanya ketegangan di Timur Tengah yang bikin pasar deg-degan. Pernyataan bernada keras (hawkish) dari dua pejabat jajaran The Fed makin mencekik pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk IDR.
Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, secara terbuka menyerukan agar suku bunga acuan dinaikkan sebanyak dua kali lagi.
Nada serupa dilontarkan Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, yang mendesak adanya kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat karena menilai kebijakan moneter saat ini masih terlalu longgar.
Pelaku pasar global kini bersiap memasang kuda-kuda menantikan rilis data ekonomi vital AS sepanjang pekan ini.
Fokus utama tertuju pada data PMI Manufaktur dan Jasa ISM Oktober, angka kesempatan kerja (JOLTS), data tenaga kerja versi ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, hingga rilis resmi Nonfarm Payrolls (NFP).
Inilah

















