CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan Washington harus memilih antara diplomasi dan aksi militer.
Ia lantas memperingatkan akan adanya respons yang “lebih keras” terhadap agresi yang kembali terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran Araghchi mengatakan Teheran terlibat dalam kontak diplomatik intensif melalui mediator Qatar dan Pakistan, yang melibatkan puluhan panggilan telepon dan “diplomasi ulang-alik intensif.”
Berbicara kepada kantor berita negara Iran, IRNA, pada akhir kunjungannya ke Turkmenistan pada hari Senin, Araghchi mengatakan Teheran telah menyampaikan rencana dan syarat yang jelas untuk penyelesaian diplomatik, dan menyerahkan langkah selanjutnya kepada Washington.
“Kami telah mengumumkan syarat-syarat spesifik kami dan mempresentasikan rencana yang telah kami rumuskan,” ujarnya, dikutip dari TRTWorld, Selasa 3 November 2026.
Sekarang, lanjutnya, semuanya bergantung seberapa besar rasionalitas politik yang berlaku di pihak Amerika dan apakah ada kemauan untuk menempuh jalan diplomasi yang bijaksana.
“Atau, seperti pada kasus-kasus sebelumnya, menyeret situasi ke arah agresi dan operasi militer,” katanya. Araghchi mengatakan Iran siap menghadapi skenario diplomatik dan militer “lebih dari sebelumnya.”
Ia juga memperingatkan setiap tindakan militer atau penipuan yang diperbarui akan memicu respons “yang jauh lebih keras dan lebih disesalkan daripada sebelumnya.”
Araghchi menekankan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada paksaan.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali negosiasi sepenuhnya bergantung pada penerimaan tanpa syarat atas “syarat-syarat yang sah” dari Iran, tambahnya.
Dalam kunjungannya ke Turkmenistan, Araghchi menggambarkan penguatan hubungan dengan negara-negara tetangga sebagai “prioritas yang tak berubah” dalam kebijakan luar negeri Iran.
Ia mengatakan perjalanan tersebut berfokus pada memajukan proyek-proyek bilateral utama di bidang energi, transit, dan kerja sama ekonomi, menyusul kesepakatan yang dicapai oleh presiden kedua negara di sela-sela KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka di Awaza.
Saat ditanya soal kunjungan Ali Bagheri Kani, wakil sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, ke Beijing, Araghchi menggambarkan konsultasi itu sebagai bagian keterlibatan strategis dan keamanan Teheran yang berkelanjutan.
Terutama dengan mitra-mitra utama dalam upaya perdamaian dan stabilitas regional.
Pertukaran diplomatik terbaru ini terjadi di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Teheran dan Washington terkait blokade angkatan laut AS dan keamanan di Selat Hormuz, jalur air vital untuk pengiriman energi global.
Pewarta: Widy

















