CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Mayoritas ahli menilai, kondisi ekonomi Indonesia saat ini memburuk dibanding tiga bulan lalu.
Mereka juga memperkirakan tiga bulan ke depan, pertumbuhan ekonomi stagnan. Hal ini terungkap dalam Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia- LPEM FEB UI.
Survei dilakukan pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 melalui platform survei daring.
Sampel survei terdiri atas 63 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang, mulai akademisi, think tank, sektor swasta, lembaga penelitian, hingga organisasi atau institusi multinasional.
“Sebanyak 33 dari 63 ahli (52 persen) menilai ekonomi Indonesia saat ini memburuk dibanding tiga bulan lalu,” begitu bunyi hasil survei dalam laporan bertajuk: LPEM Economic Expert Survey – Semester II 2026, dinukil pada Minggu 25 Oktober 2026.
Dari jumlah itu, sebanyak 29 ahli (46 persen) menjawab lebih buruk dan empat ahli (6 persen) menjawab jauh lebih buruk.
Sisanya, 25 ahli (40 persen) menilai tidak berubah dan lima ahli (8 persen) menilai membaik. Tidak ada ahli yang menjawab jauh lebih baik.
Survei LPEM Economic Expert Survey – Semester II 2026 juga menyentuh ekspektasi ekonomi mendatang berdasarkan penilaian para ahli.
Mayoritas ahli berpandangan pertumbuhan ekonomi stagnan dalam tiga bulan ke depan atau hingga akhir 2026.
“Sebanyak 52 persen ahli (33 dari 63 ahli) memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi tiga bulan mendatang tidak berubah,” beber laporan tersebut. Selain itu, tercatat 21 ahli (33 persen) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat.
Tercatat pula, sebanyak 16 ahli (25 persen) memperkirakan terjadi perlambatan ekonomi dan lima ahli (8 persen) memperkirakan terjadi perlambatan signifikan.
Lalu sebanyak sembilan ahli (14 persen) memperkirakan ekonomi tumbuh lebih cepat, sedangkan tidak ada ahli yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi melaju secara signifikan.
Ihwal perkembangan inflasi, survei menunjukkan sebanyak 49 dari 63 ahli atau sekitar 78 persen menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia saat ini tinggi.
Dari jumlah itu, 44 ahli (70 persen) menjawab tinggi dan lima ahli (8 persen) menjawab sangat tinggi. Sisanya, 13 ahli (21 persen) menilai netral dan satu ahli (2 persen) menilai rendah. Tidak ada ahli yang menjawab sangat rendah.
Soal lapangan kerja, sebanyak 73 persen atau 46 dari 63 ahli menilai penciptaan lapangan kerja saat ini lebih rendah dibandingkan enam bulan lalu.
Dari jumlah tersebut, 30 ahli (48 persen) menjawab lebih rendah dan 16 ahli (25 persen) menjawab jauh lebih rendah.
Sisanya, 15 ahli (24 persen) menilai tidak berubah dan dua ahli (3 persen) menilai lebih tinggi.
“Sebanyak 56 persen (35 dari 63) ahli menilai lingkungan bisnis saat ini lebih buruk dibandingkan tiga bulan lalu,” lanjut penjelasan laporan.
Dari jumlah itu, 26 ahli (41 persen) menjawab lebih buruk dan sembilan ahli (14 persen) menjawab jauh lebih buruk. Sisanya, 24 ahli (38 persen) menilai tidak berubah dan empat ahli (6 persen) menilai membaik.
Terkait ekspektasi tekanan inflasi, sebanyak 38 dari 63 ahli atau sekitar 60 persen memperkirakan tekanan inflasi dalam satu bulan mendatang akan lebih tinggi.
Dari jumlah tersebut, 34 ahli (54 persen) menjawab lebih tinggi dan empat ahli (6 persen) menjawab jauh lebih tinggi.
Sisanya, 22 ahli (35 persen) memperkirakan tekanan inflasi tidak berubah dan tiga ahli (5 persen) memperkirakan inflasi bergerak lebih rendah.
Adapun sebanyak 60 persen atau 38 dari 63 ahli memperkirakan penciptaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang lebih rendah dibandingkan kondisi saat ini.
Dari jumlah itu, 28 ahli (44 persen) menjawab lebih rendah dan 10 ahli (16 persen) menjawab jauh lebih rendah.
Sisanya, 22 ahli (35 persen) memperkirakan tidak ada perubahan dan tiga ahli (5 persen) memperkirakan penciptaan lapangan kerja lebih tinggi.
Pewarta: Widy

















