CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Kemarau berkepanjangan sejak bulan Agustus 2026 yang disertai kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Karhutla dari bulan Januari menjadi tantangan serius bagi upaya penanggulangan bencana di Kabupaten Penajam Paser Utara PPU.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat kondisi kemarau dengan lahan kering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dipadamkan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila, mengatakan penanganan karhutla selama ini berjalan melalui sinergi berbagai stakeholder. Pemerintah daerah, instansi vertikal, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya bekerja sama untuk menangani kebakaran sesuai lokasi dan tingkat sebarannya.
Nurlaila menjelaskan, imbauan pencegahan karhutla disampaikan secara berjenjang oleh pemerintah daerah bersama unsur terkait. Koordinasi juga dilakukan melalui jajaran kepolisian dan TNI di wilayah setempat, seperti kapolsek, Bintara Pembina Desa Babinsa, serta Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Bhabinkamtibmas, untuk mengingatkan warga agar lebih bijak dalam beraktivitas selama musim kemarau.
“Di wilayah Kebupaten Penajam Paser Utara, alhamdulillah sinergitas dan kerja kolaborasi nya berjalan dengan baik, kami para stakeholder bergerak bersama,” ucapnya. Senin, 26 Oktober 2026.
Data yang diterima dari BPBD PPU terdapat 1.277,27 HA luasan hektar karhutla dari bulan Januari hingga Oktober 2026, dengan rincian lahan terbanyak dan terluas terbakar di Kecamatan Penajam dengan total 249 kali kejadian dengan 570,48 HA lahan.
Di Kecamatan Sepaku terdapat 57 kali kejadian dengan luasan lahan 140,24 HA, di Kecamatan Waru 25 kali kejadian dengan total luas lahan 475, 04 HA, sementara di Kecamatan Babulu terdapat 68 kejadian dengan total lahan 91,51 HA Hektar.
Nurlaila menegaskan, salah satu langkah penting untuk mencegah karhutla adalah menghentikan kebiasaan membersihkan lahan dengan cara membakar. Pembakaran untuk membuka lahan baru maupun mempersiapkan area penanaman berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika lahan dalam kondisi kering.
Ia juga mengakui bahwa mengubah kebiasaan masyarakat menjadi tantangan tersendiri. Menurutnya, imbauan perlu terus disampaikan agar warga memahami bahwa tindakan membakar lahan tidak hanya berisiko bagi pelaku, tetapi juga dapat mengancam lingkungan dan keselamatan masyarakat di sekitarnya.
“Masyarakat mohon untuk mengendalikan diri, secara bijaksana memahami kondisi di sekeliling kita. Jangan membersihkan lahan dengan cara dibakar, apalagi membakar lahan untuk membuka penanaman baru atau penanaman apapun.” himbaunya.
Selain perilaku manusia, kondisi cuaca turut memengaruhi tingkat kesulitan penanganan kebakaran. Nurlaila menyebut fenomena El Nino sebagai tantangan yang perlu diatasi terutama pada ketersediaan air sebagai bahan utama untuk pemadaman yang saat ini berkurang.
Nurlaila memberikan contoh bagaimana sigap nya para petugas bersama relawan dilapangan ketika kejadian di wilayah Riko yang membutuhkan waktu penanganan hingga empat hari dan kebakaran di Petung memerlukan waktu sekitar satu minggu karena api menjalar di lahan gambut.BPBD bersama unsur terkait melakukan penanganan secara berkelanjutan hingga kondisi di lokasi dinyatakan aman.
Pergantian personil di lapangan juga dilakukan agar proses penanganan dapat terus berjalan tanpa mengabaikan kondisi dan kemampuan petugas selama bertugas.
Nurlaila berharap upaya bersama tersebut dapat menekan kejadian karhutla di Kabupaten PPU. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan petugas perlu didukung kesadaran masyarakat untuk mencegah kebakaran sejak awal, sebab api yang telanjur meluas membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya lebih besar untuk dikendalikan.
Nurlaila menyampaikan bahwa berbagai langkah penanggulangan tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk menghadapi risiko karhutla selama musim kemarau. Ia berharap kondisi tetap terkendali dengan dukungan semua pihak, sembari mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
“Atas ijin yang Maha Kuasa dan sebagai langkah ikhtiar kami, kami jalankan semua usaha dalam menangani kejadian karhutla mas bersama para stakeholder secara kolaborasi.” (ADV)
Pewarta : Taufik

















