CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Kualitas udara yang tidak sehat imbas dari Kebakaran Hutan dan Lahan Karhutla dibeberapa Kecamatan di Paser Utara PPU, menjadi perhatian Dinas Kesehatan Dinkes Kabupaten PPU.
Kabut asap yang masih menyebar dibeberapa Kecamatan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut ISPA. Untuk mengantisipasi dampaknya, Dinkes PPU menggencarkan sosialisasi pencegahan sekaligus mengajak masyarakat lebih waspada terhadap kondisi udara di lingkungan sekitar.
Sekertaris Dinkes Kabupaten PPU, Safira Kunthi, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi secara langsung melalui kegiatan sosialisasi keliling yang dilaksanakan tim kerja promosi kesehatan. Kegiatan tersebut menyasar sejumlah lokasi dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi, di antaranya pelabuhan dan pasar.
Melalui sosialisasi ini, masyarakat diingatkan untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara sedang tidak sehat.Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan secara konsisten agar masyarakat dapat mengurangi risiko paparan polutan yang berasal dari asap kebakaran. Penggunaan masker menjadi salah satu upaya melindungi saluran pernapasan, khususnya bagi warga yang harus bekerja atau melakukan aktivitas di luar rumah. Jumat, 23 Oktober 2026
“Masyarakat tentu harus menjaga kondisi tubuh agar tetap prima, karena akan berpengaruh pada daya tahan tubuh,” himbaunya pada saat bertemu awak media
Safira Kunthi menyebutkan, pihaknya telah merancang agenda pembagian masker melalui puskesmas yang ditujukan kepada anak-anak sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap peserta didik sekaligus menghimbau seberapa pentingnya menjaga kesehatan pernapasan.
Sambungnya, ia mengingatkan dampak ISPA akibat paparan asap karhutla tidak boleh dianggap sepele, karena indikator seberapa parahnya penyakit dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh. Pada kondisi tertentu, gangguan pernapasan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan serius, terutama jika dialami oleh orang yang memiliki faktor risiko atau tidak memperoleh penanganan yang tepat. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar asap.
“Jangan sampai paru-paru generasi bangsa, anak-anak kita, rusak, apalagi dalam kondisi udara seperti ini,” ungkap Safira.
Ia menegaskan, perlindungan kesehatan anak-anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan. Pengawasan orang tua juga sangat berpengaruh untuk memastikan anak menggunakan masker jika harus beraktifitas diluar rumah.
Selain anak-anak, Dinkes PPU turut memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat yang lebih rentan mengalami dampak pencemaran udara, seperti balita, lanjut usia lansia, dan ibu hamil. Kelompok tersebut membutuhkan perlindungan yang lebih intensif karena kondisi fisik dan kebutuhan kesehatannya berbeda.
lanjutnya, ia menjelaskan bahwa intervensi kesehatan bagi kelompok rentan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing guna menghindari resiko gangguan pernapasan.
Dinkes PPU mencatat adanya peningkatan temuan kasus ISPA, di tengah kondisi kualitas udara yang kurang baik. Sejumlah masyarakat mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dengan keluhan gangguan pernapasan, mulai dari batuk dan pilek hingga sesak napas.
“Namanya saja infeksi saluran pernapasan atas. Seperti batuk pilek atau sesak nafas bahasa medisnya ISPA mas,” tutupnya. (ADV)
Pewarta : Taufik

















