CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Tunjangan Hari Raya yang biasanya menjadi penopang konsumsi masyarakat saat Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini diperkirakan tidak sepenuhnya mampu mendorong daya beli.
Musababnya, tekanan inflasi dari berbagai sisi dinilai membuat tambahan pendapatan itu lebih banyak digunakan untuk menahan kenaikan harga.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengatakan momentum Lebaran selalu meningkatkan aktivitas ekonomi melalui belanja masyarakat, mudik, dan perputaran uang dari THR.
Namun, situasi tahun ini berbeda karena ekonomi domestik juga menghadapi tekanan global.
“Ramadhan dan Idul Fitri, biasanya konsumsi meningkat, terutama dari THR dan aktivitas mudik. Tetapi tantangannya inflasi ikut naik,” tegas Abdul Manap dalam diskusi publik INDEF bertajuk: Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang, pada Senin (9/3/2026).
Menurutnya, tekanan inflasi datang dari sejumlah sumber sekaligus, mulai kenaikan harga pangan, energi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Kondisi ini membuat tambahan pendapatan masyarakat tidak sepenuhnya berubah menjadi peningkatan konsumsi.
Abdul Manap menilai, THR sering kali hanya menjadi bantalan agar daya beli masyarakat tidak jatuh lebih dalam akibat lonjakan harga.
“Tambahan pendapatan itu sering kali hanya dipakai untuk menahan dampak inflasi, bukan benar-benar meningkatkan konsumsi,” ujarnya.
Data inflasi Februari juga menunjukkan tekanan harga mulai meningkat menjelang Ramadhan.
Inflasi tahunan tercatat sekitar 4,76 persen dengan kenaikan signifikan pada komponen harga yang diatur pemerintah serta bahan makanan.
Apalagi kenaikan harga energi global juga berpotensi menambah tekanan inflasi.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia, yang dapat berdampak pada biaya energi di dalam negeri.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memperbesar risiko inflasi impor.
Ia berujar, saat rupiah melemah, harga barang impor termasuk bahan baku industri cenderung meningkat dan mendorong kenaikan harga barang di pasar domestik.
Abdul Manap menilai kombinasi berbagai tekanan tersebut membuat daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih sejak pandemi.
Hal itu terlihat dari pertumbuhan konsumsi yang masih tertahan serta melambatnya pertumbuhan uang beredar di masyarakat.
“Masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti itu, momentum ekonomi Ramadan tetap berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi daerah melalui mudik dan belanja masyarakat.
Tetapi, manfaatnya dinilai tidak akan optimal jika inflasi meningkat dan menggerus daya beli masyarakat.
Pewarta: Puerto Andika

















