CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Hari Pangan Sedunia, yang diperingati saban 16 Oktober, untuk tahun ini menyoroti ancaman dampak El Nino yang semakin menguat.
Fenomena El Nino memicu perubahan signifikan pada pola curah hujan, mulai kekeringan ekstrem hingga banjir besar. Selain itu berdampak pula pada sektor pertanian, perikanan, dan produksi pangan.
Yang akhirnya berpotensi menjadi ancaman bagi ketahanan pangan nasional dan dunia.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), meningkatkan penyediaan informasi dan layanan untuk sektor pertanian dan sektor lain yang sensitif terhadap iklim.
Upaya ini mencakup penyajian produk seperti El Nino Updates atau pembaruan informasi El Nino, yang diterbitkan setiap tiga bulan.
Ada pula Global Seasonal Climate Outlook atau prospek iklim musiman global bulanan, dan prospek musiman khusus yang disediakan Mekanisme Koordinasi WMO untuk kemanusiaan.
Forum Prospek Iklim Regional (Regional Climate Outlook Forums) menerbitkan informasi yang spesifik untuk wilayah tertentu. Sedangkan Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional bertanggung jawab atas prakiraan dan keahlian di tingkat negara.
“Dampak El Nino bervariasi antarwilayah, bahkan sering kali berbeda di dalam wilayah yang sama, serta berubah dari satu musim ke musim lainnya,” jelas Kepala Bagian Prediksi Iklim WMO, Wilfran Moufouma Okia, dikutip dari WMO.
Menurutnya kondisi lingkungan, siklus curah hujan musiman, dan faktor pendorong iklim lainnya turut menentukan dampaknya.
WMO beserta jaringan globalnya yang terdiri dari 193 Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHS) dan Pusat Iklim Regional bekerja sama menjaga ketahanan pangan.
Sekaligus mata pencaharian di sektor pertanian dan perikanan melalui penyediaan prakiraan musiman yang kredibel dan prakiraan tingkat nasional.
Upaya ini menerjemahkan sains iklim ke dalam informasi praktis yang dapat dimanfaatkan pemerintah, organisasi kemanusiaan, pelaku bisnis, dan masyarakat: seperti petani yang menentukan waktu tanam, lembaga kemanusiaan yang menyiapkan bantuan darurat, atau pemerintah yang merencanakan pengelolaan air.
Menukil data Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional Peru (Senamhi), massa air laut hangat di Pasifik Timur mengalami perluasan hingga ke wilayah Pasifik Tenggara.
Pada pertengahan Oktober, suhu permukaan laut di sejumlah titik dilaporkan lebih dari 3 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Perluasan massa air hangat tersebut menjadi salah satu indikator yang diamati dalam perkembangan El Nino.
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menilai pemodelan intensitas terbaru menunjukkan fenomena kali ini berpotensi menjadi salah satu peristiwa El Nino terkuat dalam waktu sangat panjang.
WMO memperkirakan kondisi El Nino dapat bertahan hingga awal 2027.
Intensitasnya diprediksi mencapai puncak pada Desember 2026, meskipun perkembangan aktual fenomena ini tetap bergantung pada kondisi laut dan atmosfer.
Istilah El Nino dalam bahasa Spanyol berarti anak laki-laki. Nama ini diberikan para nelayan Peru yang menyadari adanya penurunan hasil tangkapan ikan teri menjelang masa Natal, yang disebabkan menghangatnya perairan pesisir yang tadinya dingin dan kaya nutrisi.
El Nino dikenal pula sebagai bagian dari siklus iklim alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Fenomena ini terjadi saat perubahan angin pasat dan sirkulasi laut menyebabkan suhu permukaan di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis menghangat secara signifikan.
Perubahan ini dapat menggeser pola hujan dan suhu di berbagai kawasan.
Dampaknya berbeda-beda menurut wilayah, mulai dari meningkatnya risiko kekeringan di sebagian daerah hingga curah hujan tinggi di wilayah lainnya.
Selain memengaruhi lingkungan, fenomena ini berpotensi menekan sektor pertanian dan energi.
Kekeringan dapat mengganggu produksi pangan serta ketersediaan air, sedangkan perubahan pola angin dan cuaca dapat memengaruhi produksi energi terbarukan.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem menjadi penting bagi negara-negara yang berisiko terdampak. Pemantauan iklim, pengelolaan sumber daya air, serta langkah mitigasi di sektor pangan dan energi diperlukan untuk mengurangi potensi kerugian.
Meski demikian, besarnya dampak Super El Nino tidak akan sama di setiap negara.
Kondisi lokal dan perkembangan suhu laut dalam beberapa bulan mendatang akan turut menentukan tingkat risiko yang dihadapi masing-masing wilayah.
Pewarta: Widy

















