CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengaku geram dengan meninggalnya seorang pelajar akibat dibunuh anggota Brimob.
Ia tak habis pikir seorang aparat hukum menganiaya pelajar SMP yang jelas bukan lawan sebanding.
Selly mendesak pemberian hukuman berat dan maksimal kepada anggota Brimob di Tual, Maluku, Bripka Masias Siahaya yang terbukti menganiaya dua pelajar di Maluku Tenggara hingga satu di antaranya tewas.
“Ini sungguh keji dan biadab, bagaimana bisa seorang APH (Aparat Penegak Hukum) melawan pelajar, jelas bukan lawan sebanding. Hukuman berat maksimal harus diberikan kepada oknum itu,” teags Selly dikutip di Balikpapan, Sabtu (21/2/2026).
Ia menilai, peristiwa ini cerminan arogansi aparat sehingga hukuman yang diberikan harus memberikan efek jera agar kejadian serupa tak terulang.
Selain menilai adanya pelanggaran HAM yang tidak sesuai dengan kode etik kepolisian serta KUHP, Selly mendorong sanksi maksimal berupa hukuman penjara seumur hidup.
Langkah ini sebagai bukti kegagalan APH menjamin keselamatan warga negaranya, khususnya generasi penerus bangsa. Selain itu agar tidak menjadi konflik di kemudian hari.
“Sidang kode etik harus dilakukan terbuka agar selaras cita-cita Presiden dalam mereformasi Polri,” imbuh Selly.
Bripka Masias Siahaya diketahui memukul kepala Siswa MTsN Maluku Tenggara Arianto Tawakal (14) hingga membuatnya bersimbah darah dan tewas.
Pelaku yang bertugas di Mako Brimob Pelopor C itu juga ikut menganiaya Nasrim Karim (15), kakak dari Arianto hingga mengalami patah tulang.
Selly meminta dilakukan rekonsiliasi. Komandan pelaku, katanya, wajib menemui keluarga korban untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung sebagai bentuk tanggung jawab moral institusi.
Selain itu mengutip Ketua DPR RI Puan Maharani, Selly mendesak negara melalui lembaga terkait memberikan pemulihan menyeluruh kepada keluarga korban dan korban yang selamat.
Pemulihan meliputi pendampingan psikologis jangka panjang, rehabilitasi medis bagi korban yang mengalami patah tulang, jaminan pendidikan, serta restitusi atau kompensasi yang layak.
Ia memandang pemulihan itu bernilai penting bukan hanya untuk mengobati luka fisik dan trauma, melainkan juga untuk memastikan hak-hak korban sebagai warga negara benar-benar dipulihkan secara bermartabat.
“Negara tidak boleh hanya berhenti pada penghukuman pelaku, tetapi juga wajib menghadirkan keadilan utuh, termasuk pemulihan sosial dan mental bagi keluarga yang ditinggalkan,” ucapnya.
Kronologis
Tewasnya pelajar MTS Arianto Tawakal (14 tahun) yang diduga akibat dipukul pakai helm oknum anggota Brimob menjadi sorotan publika.
Peristiwa itu terjadi di ruas jalan kawasan RSUD Maren, Kota Tual, Maluku, Kamis (19/2/2026) pagi.
Kakak korban menyebut, saat dijalan mereka diduga sedang balap liar padahal motor mereka melaju kencang karena kondisi jalan yang menurun. Namun, sebelum tiba di titik turunan, seorang anggota Brimob bernama Bripda Masias Siahaya (MS) terlihat memantau dari pinggir jalan.
“Waktu kami sudah dekat, dia langsung loncat dari balik pohon. Langsung ayunkan helm yang dipakai, kena tepat di wajah adik saya,” kata Nasri, kakak korban.
Korban lalu dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia. Kematian Arianto memicu kemarahan keluarga dan warga dan meminta pelaku untuk diproses hukum.
Saat ini, Bripda MS, telah diamankan dan ditahan di Rumah Tahanan Polres Tual. Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto menegaskan, tidak ada toleransi bagi pelanggaran hukum maupun etika oleh anggota Polri. Kapolda juga telah meminta Propam Polda Maluku untuk melakukan investigasi mendalam.
ROL

















