CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Gubernur Kalimantan Utara, Dr. Zainal Arifin Paliwang, mengapresiasi penemuan kembali populasi Hiu Gangga atau Glyphis gangeticus di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung.
Populasi hiu itu ditemukan pada Senin (25/5/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melindungi populasi hiu yang nyaris punah itu.
“Mari kita satukan tekad menjaga eksistensi dan kelestarian predator sungai tropis yang sangat eksotis ini agar tidak punah dari muka bumi,” ajak Paliwang, melalui keterangan resminya, dikutip Selasa (26/5/2026).
Temuan 43 spesimen oleh tim peneliti dari Universitas Hasanuddin Makassar, James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan dinilai sebagai pencapaian penting bagi upaya konservasi satwa langka dunia.
Gubernur Paliwang menilai temuan ini sebagai kabar membanggakan bagi Kaltara.
Hal ini sekaligus bukti pentingnya kolaborasi riset untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Menurutnya, keberadaan Hiu Gangga yang berstatus Critically Endangered atau sangat terancam punah menjadikan Sungai Sesayap memiliki peran strategis sebagai habitat penting bagi kelangsungan hidup spesies tersebut.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Kabupaten Tana Tidung, untuk bangga atas temuan berharga ini,” kata Gubernur Paliwang.
Selain mengajak menjaga kelestarian habitat hiu Gangga, Paliwang juga mengingatkan nelayan di sekitar Sungai Sesayap.
“Agar melepaskan kembali Hiu Gangga dengan hati-hati apabila tertangkap tidak sengaja saat menjaring atau memancing,” imbuhnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Provinsi Kaltara berencana memperkuat edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan Sungai Sesayap.
Upaya itu diharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, jika mereka memiliki peran penting menjaga salah satu satwa paling langka di dunia.
Ia menilai langkah preventif ini penting untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat.
“Bahwa mereka itu penjaga garda depan bagi kelangsungan hidup satwa langka dunia ini,” ujar Paliwang.
Temuan Membanggakan
Diwartakan sebelumnya, penemuan fenomenal keberadaan hiu air tawar yang nyaris punah baru saja diumumkan tim peneliti gabungan.
Populasi Hiu Gangga atau Glyphis gangeticus, ditemukan kembali di perairan Indonesia.
Tepatnya di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
Spesies hiu air tawar ini, selama puluhan tahun dianggap nyaris punah dari perairan dunia. Dan kini ditemukan di Kaltara.
Penelitian ini hasil kolaborasi strategis antara Universitas Hasanuddin, James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan.
Temuan ini menjadi angin segar bagi dunia konservasi internasional mengingat kelangkaan ekstrem spesies tersebut.
Data historis menunjukkan sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran aslinya, yang meliputi kawasan dari Pakistan hingga Myanmar.
Kondisi ini membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkannya dalam kategori Critically Endangered atau Sangat Terancam Punah.
Namun, penelitian lapangan yang dilakukan tahun 2023 memberi hasil yang mengejutkan.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, tim peneliti berhasil mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap.
Angka ini mengukuhkan kawasan itu sebagai salah satu habitat tersisa yang paling krusial bagi keberlangsungan hidup spesies ini.
Sungai Sesayap kini telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada tahun 2024.
Pengakuan internasional ini menegaskan peran sungai Sesayap di Kaltara, sebagai daerah asuhan (nursery ground) utama bagi hiu sungai yang sangat langka.
Perwakilan Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe, menyatakan temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah di atas kertas.
Menurutnya, keterlibatan Unhas sejak 2022 dalam riset ini bertujuan membangun model konservasi yang adil dan kolaboratif.
“Temuan ini tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang dapat diterima masyarakat,” ujar Prof. Rohani, Senin (25/5/2026).
Pihaknya mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan.
Ia menyampaikan, riset ini bagian komitmen jangka panjang perguruan tinggi dalam menghadirkan sains yang berdampak langsung pada persoalan lingkungan global.
Masyarakat lokal diharapkan menjadi bagian penting dari solusi perlindungan habitat di Sungai Sesayap.
Peneliti dari James Cook University, Michael Grant, menekankan pentingnya status ISRA bagi Sungai Sesayap.
Dengan pengakuan ini, perlindungan terhadap ekosistem sungai di Kalimantan Utara diharapkan menjadi prioritas nasional maupun internasional.
Penemuan kembali Hiu Gangga di Kalimantan Utara membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa.
Hal ini menjadi benteng terakhir bagi spesies-spesies yang dianggap telah hilang dari peta dunia.
Kolaborasi lintas negara dan pelibatan akademisi lokal menjadi kunci utama membuka ruang harapan bagi penyelamatan ekosistem air tawar.
Pewarta: Ruslan

















