CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Siapa nyana, Balikpapan tak hanya dikenal sebagai Kota Minyak.
Di tengah pemukiman di kawasan Telaga Sari, masih ada hutan yang asri.
“Kalau ke dalam hutan, masih ada ularnya,” tutur Ketua RT 24 Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, Kasmiran.
Ia berkisah banyak hal soal hutan di tengah kota tersebut. Di tengah perbincangan, suara burung bersahutan di antara pepohonan yang menjulang tinggi.
Di sebuah gazebo, perbincangan riang terdengar mengalir antara sejumlah Ketua RT dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM).
Ada pula Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD Balikpapan, Doris Eko Rian Desyanto, Senin 10 Agustus 2026 sore.
Suasana terasa teduh, dengan tanaman hijau tumbuh asri yang menciptakan ruang sederhana untuk berbincang. Sekaligus menikmati ketenangan alam di tengah Kota Balikpapan.
Dulu, tempat itu dinamakan Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari, namun kini berubah menjadi Taman Hutan Kota Telaga Sari yang berada di Kecamatan Balikpapan Kota.
Melalui plang yang dipasang di pintu masuk, tertera informasi: kawasan ini memiliki luas sekitar 29,574 hektare dengan beragam vegetasi di dalamnya.
“Namun, kini luasannya berkurang. Kalau tidak salah tinggal 16 hektare,” ujar Koordinator LKM Telaga Sari, Widodo, kala berbincang santai dengan media ini, Senin sore.
Widodo mengatakan, pengelolaan hutan ini telah ada sejak era Walikota Tjutup Suparna. Lalu diteruskan sampai masa Walikota Rizal Effendi.
Saat itu, masih ada perusahaan Chevron yang kerap memberi kontribusi sosial. Giat CSR sebagai tanggung jawab sosial perusahaan Chevron kala itu, dengan membantu pengelolaan.
Selain itu mengundang akademisi dari berbagai kampus. Seperti ITB dan UGM.
“Mereka melakukan penelitian di sini. Ada juga yang membantu menanam pohon, seperti yang di sebelah sana,” kata Widodo, menunjuk deret pohon kecil yang diberi nama sesuai jenisnya. Sejumlah kegiatan alam hidup. Kawasan alam ini terawat rapi.
Namun, sejak Walikota Rizal menuntaskan masa pengabdiannya dan berganti kepemimpinan, sejak itu kawasan tersebut tak lagi dirawat seperti biasanya.
“Ya berarti sudah hampir tujuh tahun terakhir. Dinas Lingkungan Hidup masih melakukan perawatan, tapi tidak seintens masa-masa sebelumnya,” paparnya.
Sejumlah tanaman tumbuh di kawasan tersebut, mulai akasia, trembesi, mahoni, karamunting, mangga hingga berbagai jenis tanaman lainnya.
Ketua RT 24 Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, Kasmiran, mengatakan kawasan ini memiliki tiga gerbang sebagai akses masuk yang terhubung.
“Ada tiga gerbang akses masuk Mas disini, di tiga RT berbeda. Bisa melaui RT 39, RT 45, dan RT 24,” ucapnya.
Menurutnya, kawasan tersebut biasanya mulai ramai dikunjungi masyarakat pada akhir pekan, terutama pada sore hari. Dengan daya tarik lingkungan tanaman yang masih terjaga.
Masyarakat dapat menggunakan kawasan tersebut untuk berbagai kegiatan tanpa batasan waktu, selama tetap memperhatikan aturan yang berlaku.
“Kalau ingin berkegiatan, masyarakat harus melapor kepada DLH, kelurahan, maupun RT setempat,” terang Kasmiran.
Kasmiran bilang, tahun lalu ia bersama para warga sekitar berinisiatif melakukan pembersihan dan perawatan. Sebab, lanjutnya, dulu ada gerbang masuk tapi tidak terawat.
Pihaknya bersama warga berinisiatif bergotonng-royong, kemudian sekian waktu terdengar istri Walikota Rahmad, Ibu Nurlena.
“Beliau tertarik. Akhirnya meminta DLH untuk membantu perawatan di sini,” jelasnya. Sampai kini, perawatan masih berjalan.
Ia mengingatkan bagi masyarakat yang berkunjung, di samping menikmati suasana alam, perlu diiringi kesadaran untuk menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan.
“Warga sekitar di sini dari berbagai RT rutin melakukan kerja bakti, bersih-bersih kawasan sekaligus merapikan fasilitas yang ada.”
Lokasi Taman Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari berdampingan dengan pemukiman warga dan perumahan Pertamina.
Sehingga keberadaannya menjadi ruang terbuka hijau yang cukup penting bagi masyarakat sekitar.
Kasmiran berharap kawasan tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga dikembangkan dengan fasilitas wisata berbasis alam.
“Siapa tau bisa dipasang wisata seperti wahana Flying fox, jembatan gantung atau wahana edukasi bagi pelajar untuk mengenal tumbuh tumbuhan.”
Beberapa fasilitas yang diharapkan dapat memberikan nilai rekreasi baru bagi masyarakat tanpa harus menghilangkan karakter alami kawasan.
Setiap gerbang yang berada di masing-masing RT juga dapat menjadi bagian dari penataan kawasan agar lebih menarik.
Di tengah perbincangan, Anggota DPRD Balikpapan, Doris Eko Rian Desyanto menilai kawasan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis alam.
Menurutnya jika Taman Hutan Kota ini dilakukan pengembangan fasilitas pendukung, dapat membuat masyarakat semakin tertarik dan berkegiatan.
“Sehingga menjadi peluang potensi wisata yang lebih luas. Orang kota sebagian besar mencari tempat untuk refreshing yang masih menyatu dengan alam,” saran Doris.
Ia mengatakan kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari kini telah menjadi Taman Hutan Kota Pendidikan Telaga Sari.
Dengan menyimpan potensi menjadi ruang rekreasi alami di tengah kota.
“Asalkan pengembangannya tetap menjaga keseimbangan fasilitas, kebutuhan masyarakat, dan kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Doris berkomitmen untuk memperjuangkan kawasan ini untuk menjadi wisata baru di Balikpapan. Ia bersama sejumlah Ketua RT akan terus berupaya untuk membantu merawat dan menjaga kawasan tersebut.
“Bulan September nanti kita buat acara di sini bersama masyarakat, datang ya,” ajak Doris.
Pewarta: Taufik

















