CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebut harga bahan pokok menjelang Lebaran 2026 relatif terkendali.
Namun di lapangan, sejumlah komoditas penting masih dijual jauh di atas harga acuan pemerintah. Bahkan, harga cabai kian terasa pedas.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan berdasarkan pemantauan per 5 Maret 2026, ketersediaan stok pangan secara umum masih dalam kondisi aman.
“Secara umum kondisi terkendali. Namun perhatian khusus diberikan pada komoditas yang melampaui Harga Eceran Tertinggi atau harga acuan pemerintah,” kata Heni, pada Senin (9/3/2026).
Data pemantauan harga menunjukkan beras medium berada di kisaran Rp15.459 per kilogram, sementara beras premium mencapai Rp16.623 per kilogram.
Untuk komoditas pelengkap, gula pasir tercatat Rp18.842 per kilogram dan minyak goreng curah berada di kisaran Rp17.714 per liter.
Meski sejumlah bahan pokok relatif stabil, harga komoditas hortikultura masih cukup tinggi. Cabai rawit merah tercatat mencapai Rp74.625 per kilogram atau naik sekitar 1,02 persen secara harian.
Harga cabai merah keriting juga berada di angka Rp46.625 per kilogram, sementara bawang merah menyentuh Rp44.983 per kilogram.
Harga daging sapi tercatat berada di kisaran Rp158.565 per kilogram.
Di tengah lonjakan sejumlah komoditas tersebut, harga daging ayam justru mengalami penurunan tipis sekitar 0,20 persen.
Heni mengakui masih terjadi disparitas harga bahan pokok antar kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Faktor jarak distribusi dan biaya logistik menjadi penyebab utama perbedaan harga di berbagai wilayah.
Selain itu, ketergantungan Kaltim terhadap pasokan dari luar daerah juga memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Jika dibanding daerah penghasil seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, maupun Kalimantan Selatan, rata-rata harga sejumlah bahan pokok di Kaltim memang cenderung lebih tinggi, terutama untuk komoditas daging sapi dan cabai.
Pemerintah Provinsi Kaltim bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menyatakan terus memperkuat pemantauan harga serta distribusi logistik guna menjaga stabilitas pasokan menjelang Lebaran.
“Pengendalian inflasi adalah kunci untuk menjaga daya beli masyarakat,” kata Heni.
Sebelumnya,Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengatakan momentum Lebaran selalu meningkatkan aktivitas ekonomi melalui belanja masyarakat, mudik, dan perputaran uang dari THR.
Namun, situasi tahun ini berbeda karena ekonomi domestik juga menghadapi tekanan global.
“Ramadhan dan Idul Fitri, biasanya konsumsi meningkat, terutama dari THR dan aktivitas mudik. Tetapi tantangannya inflasi ikut naik,” tegas Abdul Manap dalam diskusi publik INDEF bertajuk: Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang, pada Senin (9/3/2026).
Menurutnya, tekanan inflasi datang dari sejumlah sumber sekaligus, mulai kenaikan harga pangan, energi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Kondisi ini membuat tambahan pendapatan masyarakat tidak sepenuhnya berubah menjadi peningkatan konsumsi.
Abdul Manap menilai, THR sering kali hanya menjadi bantalan agar daya beli masyarakat tidak jatuh lebih dalam akibat lonjakan harga.
“Tambahan pendapatan itu sering kali hanya dipakai untuk menahan dampak inflasi, bukan benar-benar meningkatkan konsumsi,” ujarnya.
Data inflasi Februari juga menunjukkan tekanan harga mulai meningkat menjelang Ramadhan.
Inflasi tahunan tercatat sekitar 4,76 persen dengan kenaikan signifikan pada komponen harga yang diatur pemerintah serta bahan makanan.
Pewarta: Taufik

















