CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara merespons lonjakan harga minyak dunia imbas perang Amerika Serikat dan Israel versus Iran.
Termasuk, dampaknya terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Menkeu Purbaya mengatakan dari hasil perhitungan saat ini tekanan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN senilai US$ 92 per barel.
Asumsi harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 dipatok US$ 70 per barel.
Kalau terpaksa ada penyesuaian anggaran imbas melonjaknya harga minyak, maka akan ada langkah penghematan anggaran.
Purbaya menyebut salah satu contohnya anggaran Makan Bergizi Gratis.
“Kalau harganya US$ 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6% lebih. Kita akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa ada yang lain kan, bisa penghematan misalnya di MBG,” ujar Purbaya, pada Jumat (6/3/2026).
Ia menilai, selama ini proses MBG bagus tapi pihaknya akan mencegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan.
“Misalnya beli motor SPPG, jadi ganti motor, mereka senang, saya rugi. Misalnya lagi beli komputer di SPPG dikasih komputer,” imbuh Purbaya. Ia menyebut kenaikan harga minyak yang perlu diwaspadai saat menyentuh level US$ 92 per barel.
“Kalau asumsinya naik yang jeleknya sampai US$ 72, masih aman defisitnya, masih bisa dikendalikan. Terburuk yang US$ 92 tadi,” ujar Purbaya.
Meski begitu, Purbaya menilai Indonesia sudah berpengalaman menghadapi tekanan harga minyak sampai di atas US$ 100 per barel.
Jika harga minyak sudah terlalu tinggi, ia tidak menampik kemungkinan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi akan naik.
Ia mengingatkan jika anggarannya tidak kuat, tidak ada jalan lain. Mau tak mau dishare dengan masyarakat sebagian. “Artinya ada kenaikan BBM kalau memang harganya tinggi sekali. Bagi saya tinggi US$ 185 lah,” jelas Purbaya.
Purbaya bilang, saat harga minyak naik tinggi, negara-negara produsen utama tidak akan membiarkan harganya bertahan di level atas.
Sebab tidak ada satupun negara yang mampu membeli hingga berpotensi menjatuhkan perekonomian global. “Karena AS sudah bolehkan eksplorasi di Alaska, yang lain-lain juga sama, nanti Venezuela mulai kirim ke pasar akan turun juga, jadi naiknya kenceng sekarang tetapi nggak gila-gilaan kan,” kata Purbaya.
Pewarta: Puerto Andika

















