CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Pemerintah Kota Balikpapan, memberlakukan pembelajaran jarak jauh- PJJ, bagi pelajar SD dan SMP, selama tiga hari.
Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah antisipasi dampak kabut asap kenakaran hutan dan lahan, yang menyelimuti wilayah tersebut.
“Kebijakan berlaku mulai Rabu hingga Jumat (14-16/10) untuk seluruh sekolah di Kota Balikpapan, khususnya tingkat SD dan SMP,” jeals Wali Kota Rahmad Mas’ud, Selasa, 13 Oktober 2026.
Adapun pengaturan pembelajaran untuk siswa SMA, lanjut Rahmad, perlu dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Sebab, kebijakan SMA berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, sedangkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan akan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Pengalihan kegiatan belajar mengajar ke rumah dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan pada peserta didik akibat paparan kabut asap.
“Orang tua diminta memastikan anak-anak tetap mengikuti pembelajaran dari rumah dan membatasi kegiatan di luar ruangan,” imbuhnya.
Pemkot Balikpapan akan mengevaluasi pelaksanaan PJJ selama tiga hari dengan memperhatikan perkembangan kualitas udara mengacu data alat pemantau serta kondisi kabut asap di lapangan.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Air Quality Monitoring System Balikpapan Sepinggan, kualitas udara pada Senin, 12 Oktober 2026, berada dalam kategori tidak sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) saat itu tercatat 101.
Pada pengukuran sama, konsentrasi partikulat halus PM2,5 mencapai 108 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Sementara itu, konsentrasi PM10 tercatat sebesar 146 µg/m³.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiyati menyampaikan hasil pengukuran gabungan puskesmas dan DLH menunjukkan kondisi asap di Balikpapan secara umum masih tergolong baik dibandingkan beberapa daerah lain di Kalimantan Timur.
“Namun, kita tetap waspada karena asap dari daerah lain juga masih kita rasakan, terutama pada pagi hari,” ujar Alwiyati.
Dinkes Balikpapan mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, mencukupi kebutuhan air putih.
Selain itu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten untuk menjaga kesehatan.
Sebelumnya, diwartakan karhutla masih terjadi di Kota Balikpapan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Balikpapan mencatat ada 127 kejadian hingga 12 Oktober 2026.
“Per 12 Oktober 2026, telah tercatat sebanyak 127 kejadian kebakaran lahan di Kota Balikpapan sepanjang tahun 2026,” kata Kepala BPBD Kota Balikpapan Usman Ali.
Kebakaran ini menimpa lahan yang didominasi tanaman jenis vegetasi. Total luas lahan yang terbakar sekitar 81 hektare.
“Perkiraan total luas lahan terbakar mencapai 81 hektar atau setara dengan 810.156 meter persegi. Kejadian ini menimpa (lahan yang dipenuhi) ilalang serta semak belukar,” ujarnya.
Lonjakan kejadian terlihat signifikan di Agustus-September 2026. Rinciannya, 40 kejadian terjadi pada Agustus, 69 kejadian pada September, dan 11 kejadian tercatat hingga 12 Oktober 2026.
Untuk dampak kesehatan, Dinas Kesehatan Kaltim mencatat ada 9.499 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pekan ke-37 tahun 2026 akibat kabut asap karhutla. Di Kutai Barat tercatat 1.504 kasus.
Kondisi ini meningkatkan risiko paparan asap bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.
Pewarta: Ruslan

















