CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Rumah Jokowi mendadak jadi panggung satire. Bukan demo, bukan orasi. Anak-anak muda datang, menempelkan tangan ke pagar kayu di Jalan Kutai Utara No 1, Solo, lalu menunduk seolah sedang meratap.
Di Google Maps, rumah Jokowi bahkan sempat ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo”. Sindiran digital itu sempat menghebohkan publik, meski saat ini sudah menghilang dari pencarian.
Video yang diunggah akun Instagram @indopium_ memperlihatkan beberapa anak muda meletakkan tangan di pagar kayu rumah Jokowi dan menundukkan kepala. Aksi itu cepat menyebar.
Yang datang makin banyak. Beragam konten beranak-pinak.
Publik menilai satire itu lahir dari keresahan yang tak lagi percaya pada podium dan baliho, lalu memilih pagar rumah sebagai simbol.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan menilai penanda ‘Tembok Ratapan Solo’ pada rumah Jokowi, sebagai bentuk sindiran dari anak muda.
Jokowi dinilai masih ingin eksis di politik nasional.
“Gaya baru yang saya maksud publik seakan belum ingin Jokowi selesai memimpin Indonesia, meskipun sudah dua periode,” ujar Iwan dikutip dari Inilah, pada Kamis (19/2/2026).
Ia bilang, setiap hari ada saja kelompok masyarakat dari berbagai kelompok dan daerah, yang datang dan berkunjung ke kediaman Jokowi.
“Meskipun hanya sekedar salaman dan berfoto saja. Hal ini dinilai berlebihan. Menurut saya, ini salah satu strategi mempertahankan publikasi, popularitas dan approval rating Jokowi,” tuturnya.
Kepentingannya, agar visi politiknya bisa tercapai. Yakni membesarkan PSI.
“Serta menjaga eksekusi Gibran sebagai Wapres. Dan ntuk kepentingan di 2029 juga nanti,” papar Iwan.
Menengok data fiskal ke belakang, per Agustus 2024, dua bulan menjelang Jokowi lengser, utang pemerintah tercatat Rp8.461,93 triliun.
Angka ini setara 38,49 persen terhadap PDB.
Per 31 Desember 2025, angkanya naik menjadi Rp9.637,90 triliun atau 40,46 persen terhadap PDB. Beban itu kini dipanggul pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Belum lagi utang jatuh tempo yang rata-rata Rp500 triliun hingga Rp600 triliun per tahun di luar bunga. Termasuk cicilan proyek kereta cepat yang mencapai Rp1,2 triliun per tahun.
Di luar angka-angka, ada soal bayang-bayang pengaruh. Loyalis Jokowi masih bercokol di posisi strategis, dari kementerian sampai kursi komisaris BUMN.
Setiap kebijakan baru kerap dituding sebagai kelanjutan rezim lama. Upaya efisiensi dan perampingan birokrasi pun seperti berjalan di tempat. Pemerintahan baru menghadapi dua tekanan sekaligus, fiskal dan politik.
Tembok Ratapan Yerusalem
Tembok Ratapan, secara resmi dikenal sebagai Tembok Barat (Western Wall atau Ha-Kotel), yakni sisa dinding penahan kuno yang mengelilingi Bukit Bait Suci (Temple Mount) di Kota Tua Yerusalem.
Tembok ini bagian dari tembok penyangga Bait Suci Kedua yang diperluas oleh Raja Herodes Agung sekitar tahun 19 SM.
Setelah bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci pada tahun 70 M, tembok ini menjadi satu-satunya struktur besar yang tersisa dari kompleks tersebut.
Tradisi meratap ini muncul karena selama berabad-abad, umat Yahudi datang ke sini untuk meratapi kehancuran Bait Suci dan pengasingan bangsa mereka.
Dalam bahasa Ibrani, situs ini disebut Ha-Kotel Ha-Ma’aravi (Tembok Barat), karena letaknya di sisi barat Bukit Bait Suci.
Bagi umat Yahudi, tembok ratapan adalah tempat paling suci, mereka diizinkan berdoa secara bebas, karena lokasinya yang paling dekat dengan “Ruang Mahakudus” yang dulu ada di dalam Bait Suci.
Pengunjung sering kali menyelipkan kertas berisi doa atau harapan di celah-celah batu tembok tersebut. Area berdoa di depan tembok dipisahkan menjadi dua bagian, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.
Tembok ini berbatasan langsung dengan Masjidil Aqsa dan Kubah Batu (Dome of the Rock), menjadikannya salah satu titik paling sensitif secara religius dan politik di dunia.
Pewarta: Puerto Andika

















