CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), terus melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah krisis air baku menghadapi kemarau.
Musim kemarau di Kaltim, termasuk di PPU, diperkirakan akan terjadi April – Agustus 2026. Karena itu, Pemkab PPU tengah memanfaatkan Sungai Lawe-Lawe sebagai salah satu upaya mengantisipasi krisis air baku untuk memproduksi air bersih saat musim kemarau.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum Danum Taka Kabupaten PPU, Abdul Rasyid, menjelaskan Pemerintah kabupaten telah menyiapkan rencana membendung aliran air Sungai Lawe-Lawe.
“Sungai ini akan dimanfaatkan sebagai cadangan air baku,” ujar Rasyid, Kamis.
Ia menjelaskan, air aliran Sungai Lawe-Lawe yang dibendung, dialirkan ke kolam penampungan atau embung, sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber baku air yang ada.
Rasyid berharap langkah membendung aliran Sungai Lawe-Lawe dapat segara terealisasi sebelum puncak kemarau.
“Sehingga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara tetap terjaga,” harapnya. Diketahui, BMKG memprediksi musim kemarau mulai April 2026, sedangkan puncak musim kemarau secara umum diprediksi pada Agustus 2026.
Karena itu, lanjut Rasyid, pengerjaan membendung aliran Sungai Lawe-Lawe diharapkan bisa selesai sebelum puncak kemarau, agar kebutuhan air bersih warga tidak terganggu.
“Survei lokasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan Sungai Lawe-Lawe sebagai cadangan air baku telah dilakukan,” imbuhnya, seraya mengatakan penyusunan dokumen perencanaan teknis terinci diselesaikan pekan ini.
Terkait pengerjaan, lanjutnya, dilakukan melalui kolaborasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan V Kementerian Pekerjaan Umum.
Pemerintah kabupaten juga mengusulkan bantuan anggaran kepada Kementerian PU sekitar Rp30 miliar, untuk menunjang pengerjaan membendung aliran Sungai Lawe-Lawe tersebut.
Pewarta: Agung

















