CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Kementerian Kesehatan mencatat data yang masuk sampai Rabu (9/9/2026), ada sekitar 12.517.488 penduduk yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi.
Dari total warga terdampak, ada empat orang yang dilaporkan meninggal dunia.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengungkap, 12,5 juta penduduk yang terdampak karhutla berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau dan Sumatra Selatan.
Dari total warga terdampak, empat orang dilaporkan meninggal dunia, 324 orang luka berat, 23 orang luka ringan, dan 45 orang mengungsi.
Ia merinci, di Kota Banjarbaru ada beberapa yang mengalami luka berat dan rawat inap, kemudian luka ringan dan rawat jalan.
“Begitu pun di Kalimantan Tengah ada rawat inap, kemudian juga dengan luka ringan. Untuk rawat inap ada di Kalimantan Barat sebanyak 9, luka ringan 19, meninggalnya 1 dengan pengungsian sebanyak 45,” uajrnya saat konferensi pers secara daring, Kamis (10/9/2026).
Mengacu data Kemenkes yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi per 9 September 2026 pukul 15.00 WIB, terdapat 2.250.552 terdampak karhutla dengan dua orang luka berat dan tiga orang luka ringan di Kalimantan Selatan.
Untuk Kalimantan Tengah terdapat 2.843.012 orang terdampak dengan 313 luka berat dan tiga orang meninggal dunia. Sedangkan di Kalimantan Barat, ada 3.909.846 orang terdampak denga sembilan orang luka berat, 19 luka ringan, satu orang meninggal, dan 45 mengungsi.
Kemenkes juga mencatat terdapat 436 orang terdampak di Kalimantan Timur, 1.890.880 orang di Jambi, 1.224.239 orang di Riau, dan 398.523 orang Sumatra Selatan. Di empat provinsi tersebut tidak tercatat korban luka, meninggal, maupun pengungsian.
Menurut Widyawati , karhutla yang terjadi di Kalimantan-Sumatra juga menyebabkan pencemaran udara.
Dari data indeks standar pencemar udara (ISPU), setidaknya terdapat enam kabupaten/kota yang masuk ke dalam kategori berbahaya (hitam). Sementara itu, lima kabupaten masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Menukil data ISPU per 9 September 2026 pukul 16.24 WIB menunjukkan kualitas udara terburuk tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dengan nilai ISPU 954 dan parameter kritis PM10.
Selanjutnya, nilai ISPU Kabupaten Kubu Raya Kapuas di Kalimantan Barat mencapai 522, Pontianak di Kalimantan Barat 444, Katingan di Kalimantan Tengah 405, Kabupaten Gunung Mas 347, dan Kabupaten Murung Raya 317.
Selain itu, sejumlah daerah masuk kategori sangat tidak sehat, yakni Sintang Baning Kota dengan ISPU 284, Sekadau Hilir 225, Kabupaten Kapuas 221, Muaro Jambi 221, dan Tebo 206.
Adapun sejumlah wilayah lainnya berada dalam kategori tidak sehat dengan nilai ISPU antara 104 hingga 187.
Terkait ISPA, Widyawati membeber, dari data hingga 9 September 2026 pukul 16.00 WIB terdapat laporan kasus 113.336 secara kumulatif.
Adapun kasus baru yang ditemukan pada 9 September 2026 ada 4.080 kasus. Kasus ISPA terbagi dalam usia 0 sampai 5 tahun dan juga lebih dari 5 tahun.
“Untuk 0 sampai 5 tahun terdapat 26.545 dan untuk lebih dari 5 tahun terdapat 86.791. Jumlah wilayah terdampak adalah 7 provinsi dan 63 kabupaten kota,” ujarnya.
Menurutnya, Kemenkes telah menyiapkan pos pelayanan kesehatan di 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan untuk menangani dampak kesehatan akibat karhutla.
Kemenkes juga menyiagakan 87 laboratorium kesehatan masyarakat, PSC 119, serta tenaga cadangan kesehatan di daerah terdampak.
Selain itu, sebanyak 980.315 masker telah dibagikan kepada masyarakat, disertai 277 oksigen concentrator, 36 tabung oksigen, 4.908 APD, 120 face shield, sembilan air purifier, dan 248 paket makanan tambahan.
“Imbauan yang kita lakukan adalah jangan panik, namun waspada. Kenakan masker pada saat berada di luar ruangan, pantau indeks kualitas udara, perbanyak minum air putih, kunjungi faskes bila muncul sesak di masyarakat,” ujar Widyawati.
Pewarta: Rian

















