CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Rekaman video yang memperlihatkan ajudan Gubernur Katim, Rudy Mas’ud diduga menyenggol aktivis, viral di sosial media.
Ajudan Rudy Mas’ud berinisial ART, terancam diberi sanksi.
Insiden terjadi saat aktivis GMNI Samarinda mempertanyakan alasan gubernur tidak menemui massa demonstrasi.
Rekaman memantik sorotan publik karena memperlihatkan sikap arogansi dan menimbulkan ketegangan antara mahasiswa dan ajudan Rudy Mas’ud.
Dalam rekaman video yang beredar luas, ajudan terlihat menyenggol tubuh mahasiswi hingga telepon selulernya terjatuh saat para aktivis mempertanyakan alasan gubernur tak menemui massa aksi.
Peristiwa terjadi saat Rudy Mas’ud tiba di pelataran Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Pemerintah Provinsi Kaltim.
Dalam video yang diunggah ulang akun Instagram @koalisi.indonesia.maju pada Senin (19/10/2026), mahasiswa terdengar mencecar pertanyaan absennya gubernur saat demonstrasi berlangsung.
“Maaf ya, tadi ada acara PGRI,” jawab Gubernur Rudy.
Di tengah percakapan singkat, ART yang mendampingi Rudy tiba-tiba bergerak ke arah barisan mahasiswa dan menyenggol tubuh mahasiswi hingga terdorong dan telepon genggamnya terjatuh ke lantai.
ART terlihat melakukan tindakan serupa kepada mahasiswa lainnya di lokasi.
Kader GMNI Samarinda Rossa Tri Rahmawati mengatakan, massa sebenarnya telah mengakhiri aksi sekitar pukul 18.00 Wita.
Mereka sudah kembali ke titik kumpul dan menunggu adzan Magrib selesai sebelum pulang. Namun, kedatangan gubernur memunculkan reaksi dari mahasiswa.
Rossa menilai, hal itu akibat kekecewaan massa karena sebelumnya Rudy tidak menemui mereka saat demonstrasi.
“Teman-teman GMNI tidak ada ngapa-ngapain. Kami cuma duduk karena sudah mau pulang,” ujar Rossa.
Rossa mengaku merekam kedatangan gubernur menggunakan telepon genggam. Ia bilang, tidak ada mahasiswa yang berupaya menghalangi gubernur saat hendak memasuki kawasan masjid.
Rudy, kata Rossa, menghampirinya usai ia bertanya alasan gubernur tidak menemui massa aksi.
“Saya cuma nyeletuk bertanya, kenapa tadi enggak menemui massa aksi? Malah dia yang menghampiri kami untuk menjawab,” ujarnya.
Menurut Rossa, persoalan muncul setelah Rudy melewatinya. Ia mengaku telepon genggam yang digunakan untuk merekam mendapat perlakuan tak mengenakan dari salah seorang ajudan gubernur.
Padahal, ia mengklaim, tidak menyentuh apa pun.
“Bahkan tidak juga menodong-nodongkan Hp ke Rudy Mas’ud,” imbuhnya.
Kader GMNI Samarinda lainnya, Ridwan, juga mengatakan situasi mulai memanas usai sejumlah mahasiswa bereaksi terhadap kejadian itu.
Ia berujatr, reaksi itu tidak hanya datang darinya, tetapi juga dari mahasiswa lain yang menyaksikan peristiwa di sekitar masjid.
Menurut Ridwan, seorang ajudan gubernur menghampirinya dari posisi yang disebutnya cukup jauh.
Ia bilang, ajudan tersebut melakukan kontak fisik terhadap dirinya. “Dia menghampiri saya, tiba-tiba langsung mem body,” tutur Ridwan.
Jika ditemukan indikasi pelanggaran soal pengamanan gubernur, ajudan Rudy Mas’ud terancam dikenai sanksi, termasuk ditarik kembali ke kesatuan asalnya.
Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan kesatuan yang bersangkutan dan Bidang Propam Polda Kaltim.
“Kita sedang koordinasi dengan kesatuannya dan Bidang Propam, nanti akan kita tindaklanjuti,” kata Tedy di Mapolda Kaltim, Selasa 20 Oktober 2026.
Tedy menegaskan, tindakan yang diduga dilakukan ART tidak sejalan arahan Kapolri agar kepolisian hadir bersama masyarakat.
“Polisi tidak boleh arogan, tidak boleh berbohong dan menjunjung tinggi keadilan,” imbuh Tedy.
Soal kemungkinan sanksi, Tedy bilang pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari kesatuan asal Briptu ART.
Ketua DPP GMNI Andreas H Silalahi, menilai insiden itu tak hanya berkaitan perilaku individu, melainkan perlu menjadi bahan evaluasi terhadap pengawalan pejabat.
Ia meminta, “Gubernur Kaltim tidak boleh cuci tangan, harus membongkar apa yang membuat pengawalannya merasa begitu jumawa di atas penderitaan rakyat.” Andreas menegaskan hal itu dalam keterangan tertulisnya, Selasa.
Menurut Andreas, peristiwa terkait tidak bisa dilepaskan dari keresahan masyarakat terhadap dampak Karhutla.
Ia menyoroti kabut asap yang berdampak dengan kesehatan warga dan kegiatan pendidikan, termasuk laporan kasus ISPA dan penerapan pembelajaran jarak jauh di Penajam Paser Utara.
Selain tindakan yang terekam dalam video, identitas ajudan turut menjadi perbincangan di sosial media.
ARR diduga anggota Polri aktif berpangkat Brigadir Polisi Satu (Briptu) yang bertugas di Polda Kaltim.
Akun Instagram @askyandlaura yang dikaitkan sosok tersebut juga menjadi sorotan netizen.
Namun, identitas serta status kedinasannya belum dapat dipastikan melalui keterangan resmi. Akun terkait juga tak lagi ditemukan.
Pewarta: Ruslan

















