CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Fenomena El Nino kategori sangat kuat memantik curah hujan di Kalimantan Timur turun signifikan sepanjang tahun ini.
Kondisi itu mengakibatkan kemarau lebih kering dari biasanya. Bahkan, meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Bai’at Alhadid, mengatakan El Nino diperkirakan masih berlangsung sampai awal tahun depan.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi pola cuaca dan curah hujan saat Kalimantan Timur memasuki musim penghujan.
Dari pemantauan BMKG, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mencapai positif 3,07 pada September 2026. Sementara itu, rata-rata anomali selama Juli hingga September tercatat positif 2,70.
Penguatan El Nino tersebut berdampak terhadap distribusi curah hujan di Indonesia, termasuk Kalimantan Timur. Penurunan curah hujan mulai terasa sejak Juli dan berlangsung lebih cepat dibandingkan pola normal.
“Agustus 2026 menjadi bulan terkering karena hampir seluruh wilayah mengalami curah hujan rendah,” ujar Bai’at saat menyampaikan materi Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Provinsi Kalimantan Timur melalui konferensi video, Jumat, 9 Oktober 2026.
Catatan BMKG hingga 30 September 2026 menunjukkan sejumlah wilayah Kalimantan Timur mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang. Beberapa lokasi bahkan tercatat tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Di Kabupaten Paser, kondisi tersebut terpantau di Batu Enggau, Batu Sopang, Tanah Grogot, Kuaro, dan Muara Samu. Sementara di Samarinda, wilayah yang mengalami kondisi serupa berada di Sambutan dan Palaran.
Periode tanpa hujan berkepanjangan juga terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk dampak kekeringan apabila curah hujan belum kembali meningkat.
“Angin monsun Australia masih mendominasi dengan karakteristik kering dan sedikit mengandung uap air,” kata Bai’at.
BMKG memprakirakan curah hujan Kalimantan Timur pada Oktober 2026 masih berada dalam kategori rendah. Sifat hujan juga diperkirakan di bawah normal atau lebih sedikit dibandingkan rata-rata klimatologis.
Memasuki November 2026, beberapa wilayah diprakirakan mulai mengalami peningkatan curah hujan ke kategori menengah. Namun, secara umum jumlah hujan masih berpotensi berada di bawah kondisi normal.
BMKG juga menggunakan pengalaman El Nino kuat pada 1997 dan 2015 sebagai salah satu acuan dalam membaca perkembangan cuaca tahun ini. Pada kedua periode tersebut, peningkatan curah hujan mulai terlihat menjelang November dan Desember.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu mengantisipasi dampak kemarau panjang selama masa peralihan menuju musim hujan. Kewaspadaan terutama diperlukan di wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem dan memiliki periode tanpa hujan yang panjang.
Pewarta: Ruslan

















