CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten Pemkab Penajam Paser Utara PPU, Provinsi Kalimantan Timur, mengajukan tambahan kuota darurat bahan bakar minyak BBM bersubsidi jenis biosolar kepada PT Pertamina Patra Niaga. Usulan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mencegah potensi kelangkaan biosolar menjelang akhir tahun, ketika kebutuhan masyarakat dan sejumlah sektor usaha diperkirakan mengalami peningkatan aktivitas.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemkab PPU, Hadi Saputro, mengatakan tambahan kuota diperlukan untuk mengantisipasi meningkatnya konsumsi biosolar di wilayah tersebut. Menurut dia, pemerintah daerah berharap tambahan pasokan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga distribusi BBM bersubsidi tetap berjalan secara normal hingga penghujung tahun.
“Tambahan biosolar subsidi diharapkan mampu mengurangi potensi kekurangan, terutama ketika permintaan mengalami kenaikan,” ujar Hadi Saputro. Senin, 28/09/2026.
Secara alokasi tahunan, kuota biosolar subsidi untuk Kabupaten Penajam Paser Utara sebenarnya mengalami peningkatan. Pada 2025, daerah tersebut mendapatkan alokasi sebanyak 9.379 kiloliter (kl), sedangkan pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 11.023 kl. Namun, peningkatan kuota tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan energi yang terus berlangsung di wilayah Benuo Taka.
Salah satu faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan biosolar adalah pesatnya aktivitas pembangunan infrastruktur di kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara IKN. Aktivitas pembangunan tersebut turut meningkatkan mobilitas kendaraan dan penggunaan berbagai peralatan yang membutuhkan bahan bakar minyak. Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap pola konsumsi BBM bersubsidi, termasuk biosolar, di sejumlah wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.
Selain mendukung aktivitas pembangunan dan mobilitas masyarakat, biosolar juga memiliki peran penting bagi sejumlah sektor ekonomi di daerah tersebut.
Kebutuhan dari sektor perikanan dan pertanian menjadi bagian dari konsumsi yang turut diperhitungkan pemerintah daerah. Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan pembangunan, pemerintah kabupaten perlu memastikan pasokan tetap tersedia agar kegiatan masyarakat dan sektor produktif tidak terganggu.
Pria yang kerap disapa Hadi, ia menjelaskan bahwa konsumsi biosolar bersubsidi di Kabupaten Penajam Paser Utara hingga saat ini telah mencapai sekitar 60 persen dari kuota yang tersedia. Melihat tingkat konsumsi tersebut, pemerintah daerah kembali mengusulkan tambahan kuota darurat sekitar 2.000 kl kepada Pertamina Patra Niaga. Tambahan itu diharapkan dapat menjadi cadangan untuk memenuhi kebutuhan apabila konsumsi meningkat pada periode berikutnya.
“Pengajuan itu dilakukan agar pasokan biosolar tetap terjaga hingga akhir tahun,” kata Hadi.
Pemerintah daerah berharap usulan tersebut dapat segera mendapatkan tindak lanjut sehingga ketersediaan biosolar bersubsidi dapat tetap terjamin, terutama pada periode ketika permintaan mengalami peningkatan.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara menyiapkan pola distribusi yang lebih fleksibel untuk mengantisipasi ketimpangan kebutuhan antarwilayah. Distribusi tidak hanya akan mengacu pada besaran alokasi masing-masing stasiun pengisian bahan bakar umum SPBU, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat konsumsi secara keseluruhan di wilayah kabupaten.
Hadi mengatakan perhitungan kebutuhan tersebut dilakukan dengan melihat ketersediaan dan pemakaian biosolar secara menyeluruh di Kabupaten Penajam Paser Utara. Untuk menjaga kelancaran penyaluran hingga akhir tahun, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara juga terus berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga. Pemantauan terhadap pola konsumsi di setiap wilayah dilakukan sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan dan langkah distribusi selanjutnya. (ADV)
Pewarta : Taufik

















