CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Di tengah kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit diare dan inspeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara dr. Lukasiwan Eddy Saputro, menjelaskan musim kemarau berdampak pada kesehatan masyarakat dan harus diwaspadai.
Ia mengingatkan, “Polusi udara akibat debu dan asap kebakaran dari karhutla akibat musim kemarau yang mengandung partikel halus serta gas beracun, bisa memicu ISPA,” pesannya, pada Rabu, 23 September 2026.
dr. Lukasiwan lantas menukil laporan setiap puskesmas yang tersebar di empat kecamatan dan rumah sakit, menurutnya, saat ini sudah tercatat 3.222 kasus ISPA.
“Angka ini meningkat cukup signifikan dari sebelumnya 1.771 kasus,” ujarnya.
Ia memastikan sebanyak 11 puskesmas dan juga RSUD Ratu Aji Putri Botung disiagakan untuk memantau perkembangan dan menangani kasus penyakit sensitif iklim tersebut.
Pihaknya mengimbau masyarakat agar bisa mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari.
Selain itu, lanjutnya, warga diwajibkan menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut jika harus beraktivitas di luar rumah.
“Masyarakat juga perlu menutup pintu dan jendela saat kualitas udara memburuk, menghindari pembakaran sampah, dan rutin menjaga kebersihan rumah,” saran dr. Lukasiwan.
Termasuk memperbanyak konsumsi air putih dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk, sesak napas, atau demam.
Pada musimkemarau saat ini, ujarnya, keterbatasan air bersih berpotensi memicu penurunan sanitasi dan meningkatkan risiko penularan diare.
Katanya, diare tanpa penanganan tepat dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan secara drastis hingga berujung dehidrasi berat.
Karena itu, Masyarakat PPU diminta memperketat Pola Hidup Bersih dan Sehat, serta wajib memastikan air minum direbus hingga mendidih sempurna. Termasuk rajin selalu mencuci tangan memakai sabun di bawah air mengalir.
Dari laporan setiap puskesmas yang tersebar di empat kecamatan dan RSUD terdata 1.032 kasus diare, 109 kasus di antaranya terjadi pada balita. Meski demikian, sampai saat ini tidak ada laporan kematian akibat diare.
Ia menyatakan peningkatan kasus ISPA di PPU juga tidak terlepas dari dampak kebakaran hutan dan lahan. Termasuk sebaran debu selama musim kemarau.
“Secara umum indeks kualitas udara di wilayah PPU masih dalam kategori baik. Tetapi di wilayah yang dekat titik karhutla sangat terdampak kualitas udaranya yang dapat memicu penyakit ISPA,” jelasnya. (ADV)
Pewarta: M. Taufik

















