CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Ketegangan di Timur Tengah mulai memberi tekanan terhadap sektor industri nasional.
Kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global dinilai mulai membebani manufaktur dalam negeri, terutama industri yang bergantung bahan baku berbasis minyak mentah.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, tekanan ini mulai nampak dari aktivitas manufaktur Indonesia yang memasuki fase kontraksi pada awal kuartal II 2026.
“Industri manufaktur mulai terpapar lonjakan harga energi dan kesulitan memperoleh bahan baku, khususnya industri yang bergantung pada turunan minyak mentah dan petrokimia,” jelas Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I tahun 2026, Selasa (12/5/2026).
Ia memaparkan, kondisi global saat ini tak hanya berdampak sentimen pasar keuangan, tapi mulai merambat ke sektor riil melalui kenaikan biaya logistik.
Termasuk kenaikan biaya energi, asuransi, hingga distribusi pangan dan pupuk. Tekanan ini tercermin dari data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April yang turun ke level 49,1 atau masuk zona kontraksi.
Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi mengatakan, perlambatan mulai terlihat di sejumlah industri yang berkaitan dengan sektor otomotif dan bahan baku petrokimia.
“Rubber and plastic products juga mengalami tekanan karena sektor ini banyak mendukung industri otomotif,” ujar Adjie.
Ia menilai, sektor kimia dasar menjadi salah satu industri yang paling rentan terdampak kenaikan harga minyak dunia.
Sebab, minyak mentah masih menjadi bahan baku utama berbagai industri turunan seperti plastik, farmasi, hingga produk otomotif.
“Saat harga di sektor hulu naik, maka pada akhirnya akan merambat ke sektor hilir,” kata Adjie.
Adjie memaparkan dampak kenaikan biaya bahan baku memang tidak langsung terasa ke konsumen karena pelaku usaha masih berusaha menahan kenaikan harga.
Namun secara historis, tekanan biaya tersebut biasanya mulai diteruskan ke harga barang dalam rentang dua hingga empat kuartal.
Selain sektor kimia, industri transportasi juga dinilai menjadi sektor paling sensitif terhadap lonjakan harga energi.
Ia bilang, sektor transportasi udara sudah mulai merasakan dampak kenaikan harga minyak melalui peningkatan harga tiket.
“Transportasi menjadi yang paling terdampak apabila harga minyak naik dan mereka tidak memperoleh subsidi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Permata juga melihat permintaan global mulai melambat akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan perlambatan ekonomi Tiongkok.
Kondisi ini membuat sektor manufaktur Indonesia menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan melemahnya permintaan ekspor.
Josua mengatakan kondisi itu perlu diantisipasi pemerintah agar tidak berdampak terhadap penurunan produktivitas industri hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Ini menjadi tantangan besar karena di satu sisi permintaan ekspor global diperkirakan melambat, di sisi lain tekanan biaya produksi meningkat akibat harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar,” pesan Josua.
Pewarta: Puerto Andika

















