CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Inflasi di Kota Balikpapan kembali meningkat di periode Februari 2026. Kenaikan harga tiket pesawat dan cabai rawit menjadi dua komoditas paling cepat pergerakannya.
Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat inflasi Balikpapan mencapai 0,75 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Adapun secara tahunan inflasi tercatat 4,14 persen (year on year/yoy).
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan, kenaikan inflasi tak lepas dari meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Bulan Suci Ramadhan dan kondisi cuaca yang memengaruhi produksi sejumlah komoditas.
“Kenaikan inflasi terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan dan hari raya Idulfitri. Termasuk frekuensi hujan yang tinggi,” jelasnya, pada Rabu, (4/3/2026).
Ia merinci, tekanan inflasi di Balikpapan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 0,27 persen (mtm).
Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, dan kangkung.
Selain itu, lanjutnya, harga tiket pesawat meningkat menyusul bertambahnya mobilitas masyarakat yang mulai merencanakan perjalanan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Di sisi lain, harga cabai rawit melonjak karena pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi menurun akibat tingginya curah hujan.
Harga cabai rawit yang sebelumnya sekitar Rp60 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp85 ribu per kilogram. Kondisi ini terjadi di tengah permintaan masyarakat yang mulai meningkat.
Kemudian harga emas perhiasan juga mengalami kenaikan mengikuti tren harga emas dunia yang masih menguat. Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga terjadi karena keterbatasan pasokan LPG di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Harga kangkung juga meningkat karena produksi lokal berkurang akibat intensitas hujan yang tinggi.
Meski mengalami kenaikan, inflasi tahunan Balikpapan masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang tercatat 4,64 persen (yoy).
Angka ini juga lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen (yoy).
Namun demikian, inflasi tahunan tersebut masih berada di atas sasaran inflasi nasional tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Adapun sejumlah komoditas justru mencatat penurunan harga pada Februari, di antaranya pertalite, bawang merah, daging ayam ras, sawi hijau, serta baju muslim anak.
Penurunan harga pertalite dipengaruhi turunnya harga Pertamax sebesar Rp550 per liter sejak 1 Februari 2026.
Selain Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) juga mencatat inflasi pada Februari 2026 sebesar 0,89 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 4,13 persen (yoy).
Di wilayah itu, inflasi terjadi pada komoditas ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis. Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi masih berpotensi muncul dalam beberapa waktu ke depan.
Terutama dipengaruhi puncak musim hujan, gelombang laut tinggi, serta potensi banjir di sejumlah daerah sentra produksi pangan.
“Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan pangan,” kata Robi.
Pewarta: Taufik

















