CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Tahun ini Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), memberi bantuan kepada nelayan sebanyak 32 unit mesin kapal berkapasitas 24 PK.
Bantuan disalurkan ke nelayan di wilayah Kelurahan Nenang dan Kelurahan Penajam, Kecamatan Penajam. Sedangkan bantuan alat tangkap jenis bubu sebanyak 630 unit diberikan kepada nelayan di Kelurahan Nenang.
Untuk bantuan jaring udang dan jaring ikan disalurkan kepada nelayan di wilayah Kecamatan Babulu, Kecamatan Waru dan Kecamatan Penajam.
“Bantuan mesin kapal dan alat tangkap ini untuk mendorong nelayan meningkatkan hasil tangkap.” Demikian salah satu harapan Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan PPU, Nani Adriana.
Dinas Perikanan PPU mencatat produksi ikan tangkap pada semester I 2026 mencapai 3.670 ton. Hasil tangkap nelayan di semester I lebih dari 50 persen dari target 6.740 ton di tahun ini.
“Kami optimis di semester II ini bisa mencapai target 6.740 ton,” imbuh Nani, pada Jumat.
Nani menyebut, hasil tangkap nelayan selain ikan yang cukup besar ada udang dan kepiting. Terutama di musim angin selatan, hasil tangkap udang dan kepiting mengalami peningkatan.
Ia bilang, musim angin selatan ombak cukup tinggi sehingga banyak nelayan fokus menangkap udang dan kepiting.
“Dinas Perikanan PPU terus berupaya mendorong peningkatan produksi ikan tangkap dengan memberikan bantuan mesin kapal dan alat tangkap kepada nelayan,” jelasnya.
Nani merinci dari hasil tangkapan nelayan, tercatat pula 34.719 Kg kepiting bakau dan 32.392 Kg rajungan.
Nani Adriana mengatakan kedua komoditas ini memiliki wilayah tangkapan berbeda sesuai karakter habitatnya. Rajungan banyak dicari di kawasan perairan laut dan karang, sedangkan kepiting bakau hidup di kawasan mangrove.
“Rajungan biasanya dicari di kawasan karang, seperti pesisir Tanjung Jumlai. Kalau kepiting bakau banyak di kawasan mangrove, termasuk pesisir Pantai Lango, Gersik, dan Mentawir,” jelasnya.
Selain wilayah pesisir Teluk Balikpapan, kawasan mangrove di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, juga menyimpan potensi kepiting bakau.
Nelayan umumnya menggunakan bubu atau perangkap berumpan untuk menangkap komoditas tersebut.
Hasil tangkapan kepiting PPU sebagian besar dipasarkan ke luar daerah, terutama untuk kepiting berukuran besar. Sebagian lainnya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Nani mengatakan permintaan pasar turut memengaruhi harga jual kepiting. Saat Tahun Baru Imlek, harga komoditas ini bisa mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Momen Tahun Baru Imlek tuh permintaannya tinggi harga jual melejit,” katanya.
Nani mengatakan, nelayan di sejumlah wilayah juga membesarkan kepiting berukuran kecil di tambak sebelum memasarkannya. Pembesaran dilakukan agar kepiting mencapai ukuran jual yang lebih sesuai dengan permintaan pasar.
Hasil tangkapan yang kecil-kecil dan bertelur itu tidak bisa dijual. “Karena itu nelayan perlu melakukan pembesaran dulu supaya nilai jualnya tinggi,” ujarnya. (ADV)
Pewarta: Agung

















