CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Salah satu momentum penting dari puncwk haji, yakni melontar jumrah.
Ritual yang menjadi refleksi dari bagaimana Ibrahim, Hajar dan Ismail mencoba melawan godaan iblis yang hendak menggoda mereka saat hendak menaati perintah Allah SWT.
Dalam ritual ini, lebih dari 1,7 juta orang jamaah harus melemparkan batu-batu kerikil ke tiga pilar sebagai simbolisasi dari penolakan terhadap setan dan keburukan.
Batu kerikil yang digunakan dalam ritual tersebut pun diperkirakan berjumlah fantastis, yakni mencapai lebih dari 100 juta butir.
Pertanyaannya, ke mana perginya semua kerikil tersebut setelah ritual selesai dilaksanakan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut hadir tatkala Lembah Mina dan kawasan Jamarat kembali sepi pascamusim haji.
Pemerintah Arab Saudi memiliki mekanisme pengaturan ilmiah yang diterapkan secara cermat untuk mengelola batu-batu tersebut.
Dilansir dari Gulf News, ritual melontar jumrah dimulai pada Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah), ketika jamaah haji melemparkan kerikil ke salah satu pilar, yaitu Jumrah Aqaba.
Selama dua atau tiga hari berikutnya, yang dikenal sebagai hari Tasyrik, jamaah melemparkan masing-masing tujuh batu kerikil ke tiga pilar.
Yaitu Jumrah Ula (pilar kecil), Jumrah Wusta (pilar sedang), dan Jumrah Aqaba (pilar besar).
Setiap orang haji menghabiskan total 49 batu kerikil jika mereka mengambil pilihan Nafar Awal (melontar selama tiga hari), dan 70 batu kerikil jika mereka mengambil pilihan Nafar Tsani (bertahan hingga hari keempat).
Teknologi Tinggi
Setelah ritual selesai, batu-batu kerikil yang dilemparkan ke tiga pilar itu akan jatuh secara vertikal ke bagian bawah.
Kemudian tertampung di ruang bawah tanah (basement) fasilitas Jamarat, yang memiliki kedalaman hingga 15 meter.
Di ruang bawah tanah ini, serangkaian ban berjalan (conveyor belt) dioperasikan untuk mengumpulkan gunungan kerikil tersebut.
Batu-batu ini kemudian melewati proses penyaringan (sieving), kerikil-kerikil tersebut disemprot dengan air bertekanan tinggi guna membersihkan debu, pasir, dan kotoran yang menempel.
Setelah bersih, kerikil-kerikil tersebut dipindahkan ke kendaraan angkut khusus untuk dibawa ke area penyimpanan tertentu.
Di lokasi penampungan akhir inilah kerikil-kerikil itu akan dikelola lebih lanjut setelah musim haji benar-benar berakhir.
Selain peran pemerintah, lembaga sosial kedisinian seperti Asosiasi Hadiah Amal Jamaah Haji & Umrah yang berbasis di Makkah, bekerja sama dengan Perusahaan Kedana, juga memainkan peran vital dalam melayani para tamu Allah.
Pada musim haji lalu, organisasi ini menyediakan lebih dari 80 ribu kantong batu kerikil siap pakai untuk ritual melontar.
Kantong-kantong tersebut didistribusikan di lebih dari 300 titik layanan jamaah di Muzdalifah, serta di fasilitas Jembatan Jamarat di Mina.
ROL

















