CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Festival Budaya Lembah Bambu, bukan saja cara melestarikan hutan, lingkungan dan budaya.
Namun di festival ini juga membumikan kuliner tradisional khas Kaltara, Kalimantan Utara, melalui pasar rakyat.
Pasar ini diramaikan pelaku UMKM dari berbagai penjuru kabupaten.
Pusat kegiatan Festival Lembah Bambu dihelat di Desa Gunung Sari KM 12, Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Sabtu (23/5/2026).
Di festival ini pengunjung dapat menikmati pasar rakyat, pameran kuliner tradisional, lomba tari pesisir dan pedalaman, dan diskusi budaya serta lingkungan.
Agenda ini menjadi salah satu pusat perputaran ekonomi kreatif lokal yang melibatkan banyak UMKM dan dihadiri tokoh-tokoh pemerintah daerah serta DPRD Bulungan.
Salah satunya Wakil Ketua DPRD Bulungan, Tasa Gung.
Ia tampak menikmati sajian kuliner yang dijajakan, bahkan asyik masyuk memborong.
“Luar biasa sekali di sini. Festival Lembah Bambu ini bisa mendongkrak UMKM lokal dan menambah perputaran ekonomi masyarakat,” ujar Tasa Gung, Sabtu.
Tasa Gung sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini. Ia mengaku telah dua kali menghadiri agenda sejenis.
“Yang acara awal beberapa bulan lalu saya ikut juga menanam pohon, dan tadi saya lihat pohonnya mulai tumbuh,” ujar Tasa Gung.
Festival Lembah Bambu Kaltara, yang diisi kegiatan pasar rakyat berada di tengah hutan, dan dikelilingi rimbun pohon.
Di dalamnya suasana begitu alami.
Di sini, pengunjung bisa berbelanja berbagai macam penganan yang dijajakan pedagang. Sistem jual belinya pun unik.
Kalau umumnya bertransaksi dengan uang, di Pasar Rakyat Lembah Bambu, pengunjung wajib membayar dengan bilah bambu kecil yang dijadikan sebagai alat transaksi, pengganti uang.
Masing-masing belah bambu dituliskan varian nominal. Mulai Rp 5ribu – Rp 20ribu.
Pasar Rakyat Lembah Bambu berada di hutan kecil, belakang pondok pesantren Fatimah Az-Zahra di Desa Gunung Sari, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara.
Kalau mau ke Pasar Rakyat ini, satu-satunya akses melewati gerbang pondok pesantren Fatimah Az-Zahra. Aksesnya mudah.
Dari pusat kota Tanjung Selor atau ibukota Kalimantan Utara, untuk pergi ke Pasar Rakyat Lembah Bambu bisa ditempuh sekitar 30 menit.
Dari jalan poros, memasuki kawasan pesantren sekitar 1 kilometer masih dengan kondisi jalan tanah. Namun lumayan bagus, mobil dapat masuk hingga depan pesantren.
Tentang Lembah Bambu Kaltara
Lembah Bambu, begitu disebutnya.
Pendiri Lembah Bambu, Jimmy Nasroen, menjelaskan lembah bambu berada di kawasan lembah yang banyak pohon bambu.
Tetapi, katanya, saat ini sudah banyak berkurang pohon bambunya.
“Karena itu sejak tahun 2020 kita tanam kembali. Kepada anak-anak mahasiswa yang sering ke sini, saya minta menanam bambu,” kata Jimmy ditemui di Lembah Bambu.
Selain rimbun, asri dan nyaman untuk berekreasi, di kawasan ini juga disediakan fasilitas outbound, hingga flying fox.
Di sini, banyak pula varian jajanan. Mulai makanan tradisional sampai kopi ala kafe.
Namun untuk jajan, sebelum memasuki pasar rakyat, pengunjung harus menukar uangnya dengan bilah bambu. Sebabm di pasar ini alat tukarnya pakai uang bambu.
“Tujuannya untuk mengingatkan kehidupan tradisionalnya dan lebih menarik,” imbuh Jimmy.
Beberapa varian makanan yang dijajakan, antara lain, nasi bakar, jajanan pasar tradisional, crepes, nasi goreng, dan masih banyak lagi yang tersedia.
Kawasan ini cocok menjadi rekomendasi, destinasi wisata berbasis kebudayaan dan kearifan lokal yang unik.
Untuk menarik pengunjung, di kawasan lembah bambu sering diadakan beragam kegiatan. Langkah ini sekadar hiburan semata.
Melainkan salah satu cara mengedukasi masyarakat terkait konservasi lingkungan dan hutan, serta berbagai kearifan lokal lain.
Langkahnya lewat diskusi publik, dengan melibatkan tokoh, pejabat, mahasiswa serta mengundang pemateri dari berbagai daerah di luar Kalimantan Utara.
Selain itu ada pula lomba budaya dengan menghelat kompetisi tari pesisir dan pedalaman. Kemudian menyediakan wadah diskusi ihwal kebudayaan dan lingkungan hidup.
Dukungan Kemenag
Kementerian Agama Bulungan mengapresiasi agenda tersebut. Sebab selaras dengan program ekoteologi.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulungan, H. Muh. Ramli M bersama Kasi PD Pontren, Andi Khamisah turut menghadiri Festival Budaya Lembah Bambu 2026.
Ia menilai festival yang digelar Lembah Bambu itu menjadi ruang edukasi dan pelestarian budaya melalui pasar rakyat, kuliner tradisional nusantara, lomba tari pesisir dan pedalaman, serta diskusi kebudayaan dan lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Kakan Kemenag Bulungan mengapresiasi pelaksanaan festival karena dinilai sejalan Asta Protas Kementerian Agama, khususnya program Ekoteologi, yang mengajak masyarakat menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral, spiritual, dan upaya melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang.
Pewarta: Taufik

















