CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Dinas Pertanian Distan Kabupaten Penajam Paser Utara PPU mulai menerapkan metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System PM-AAS pada musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027 Okmar. Penerapan metode tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah, untuk mendorong peningkatan produktivitas tanaman padi sekaligus memperkuat penerapan sistem pertanian modern di wilayah PPU.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengatakan penerapan PM-AAS merupakan bagian dari program Kementerian Pertanian Kementan yang menargetkan penerapan metode pertanian modern tersebut secara nasional. Hingga akhir 2026, Kementan menargetkan penerapan metode PM-AAS dapat mencakup lahan pertanian seluas satu juta hektare di berbagai daerah di Indonesia.
Untuk wilayah Kalimantan Timur Kaltim, target penerapan PM-AAS ditetapkan seluas 7.125 hektare. Dari total target tersebut, Kabupaten PPU mendapatkan porsi penerapan seluas 3.546 hektare.
Luasan tersebut menjadikan PPU sebagai salah satu daerah yang memiliki target cukup besar dalam pelaksanaan program pertanian modern tersebut di tingkat provinsi.
Gunawan mengatakan, pelaksanaan PM-AAS di Kabupaten PPU akan dimulai pada musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027 atau yang biasa disebut musim tanam Okmar. Pemerintah daerah bersama pihak terkait akan melakukan penerapan metode tersebut pada lahan yang telah ditentukan sesuai dengan program dan target yang diberikan.
“Metode tanam PM-AAS akan mulai diterapkan di musim tanam Okmar,” ucap Gunawan, Jumat 25/09/2026.
Ia menjelaskan, PM-AAS merupakan inovasi pertanian yang dikembangkan Kementan untuk meningkatkan produktivitas dan hasil panen padi. Sistem tersebut mengedepankan modernisasi dalam proses budi daya tanaman padi dengan mengintegrasikan sejumlah pendekatan, mulai dari penggunaan mekanisasi, pengaturan pola tanam hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan pertanian.
Secara konsep, Pertanian Modern-Advanced Agriculture System merupakan modernisasi sistem budi daya padi yang dilakukan secara terstruktur dan intensif. Metode ini mengintegrasikan mekanisasi pertanian, pola tanam dengan jarak yang lebih rapat, serta pengelolaan berbasis teknologi digital. Penerapan sistem tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan berbagai input pertanian sekaligus mengoptimalkan produktivitas tanaman sejak tahap persiapan hingga proses produksi.
Dalam penerapannya, PM-AAS merupakan kombinasi antara sistem tanam tabur langsung atau tabela dengan sistem jajar legowo. Perpaduan kedua metode tersebut kemudian diterapkan dengan pengaturan jarak tanam yang lebih rapat dibandingkan pola tanam yang selama ini digunakan. Pengaturan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan jumlah tanaman padi yang dapat dibudidayakan dalam satu hektare.
“Metode PM-AAS ini jarak tanaman padi lebih rapat. Sedangkan jarak antarbaris tanaman sekitar 20 sentimeter,” ujarnya.
Gunawan menerangkan, penerapan pola tanam dengan jarak yang lebih rapat tersebut memiliki konsekuensi terhadap kebutuhan benih. Petani nantinya membutuhkan benih lebih banyak dibandingkan dengan penerapan sistem tanam tabela maupun jajar legowo secara konvensional.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan benih tersebut sejalan dengan tujuan penerapan PM-AAS untuk meningkatkan populasi tanaman dalam satu luasan lahan. Dengan jumlah tanaman yang lebih banyak dan pengelolaan yang dilakukan menggunakan pendekatan pertanian modern, potensi peningkatan produksi padi diharapkan dapat lebih besar dibandingkan hasil panen yang diperoleh melalui metode yang selama ini diterapkan.
“Benih yang dibutuhkan lebih banyak sehingga potensi peningkatan hasil panen lebih tinggi. Penerapan PM-AAS ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen minimal 5 ton per hektare. Karena, selama ini hasil panen padi di PPU rata-rata hanya 3 sampai 4 ton per hektare,” jelasnya. (ADV)
Pewarta : Taufik

















