CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Sebanyak 39 individu satwa liar terdampak kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Agustus-September 2026 berhasil diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi sukses menyelamatkan 39 satwa liar, yang teperangkap dalam asap akibat karhutla.
Dari 39 satwa, sebanyak 19 individu orangutan Kalimantan.
Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibibawanto mengatakan penyelamatan dilakukan melalui kerja bersama tim balai, mitra konservasi, dan pihak terkait.
“Upaya penanganan terpadu ini dijalankan secara intensif oleh tim BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi melalui 30 laporan kegiatan,” ujar Ari, Selasa 6 Oktober 2026.
Ia menerangkan, 30 laporan kegiatan tersebar di tujuh daerah. Dari Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Berau, Bontang, dan Paser.
Penanganan mencakup rehabilitasi, penitipan, translokasi, serta evakuasi sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing satwa.
Berdasarkan rekapitulasi BKSDA Kaltim, satwa yang ditangani terdiri atas 19 orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), enam trenggiling (Manis javanica), lima kukang (Nycticebus sp.).
Termasuk tiga lutung kelabu (Trachypithecus cristatus), dan dua elang (Lophospiza trivirgata dan Milvus migrans).
Selain itu, ada juga masing-masing satu beruang madu (Helarctos malayanus), bekantan (Nasalis larvatus), tarsius (Cephalopachus bancanus borneanus), dan lutung merah (Presbytis rubicunda).
Rehabilitasi dilakukan di PRO COP, PRS CAN Borneo, dan PRO BOSF Samboja Lestari. Sedangkan penitipan satwa dilakukan di PT SGBL.
Adapun lokasi translokasi meliputi Cagar Alam Muara Kaman Sedulang, Hutan Lindung Batu Mesangat, PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia, serta Hutan Lindung Sungai Wein.
Rangkaian penanganan juga mencakup evakuasi 11 orangutan dari Sekolah Hutan Yayasan Jejak Pulang di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus Samboja menuju kandang karantina karena kawasan terdampak asap karhutla.
Ia menjelaskan, evakuasi sebelas orangutan menuju kandang karantina Kilometer 38 untuk menghindarkan primata langka dari pajanan pekat kabut asap karhutla.
Pewarta: Ruslan

















