CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Peta ekonomi Kaltim melanjutkan pergeseran pada kuartal IV/2025, seiring kian berkurangnya pertumbuhan sektor pertambangan batu bara.
Di pengujung tahun 2025, performa sektor industri pengolahan kembali melampaui pertambangan batu bara sebagai kontributor pertumbuhan tertinggi, meski secara struktural tambang masih menguasai sepertiga perekonomian daerah.
Kini, ekonomi Kaltim beralih ke industri pengolahan dengan pertumbuhan yang melampaui batu bara di angka 2,53% yoy, meski tambang masih dominan di PDRB.
Adapun sektor pertambangan masih memimpin pangsa PDRB dengan 33,19%, lalu industri pengolahan berada di posisi kedua dengan 20,61%.
Sedangkan sektor konstruksi mengalami kontraksi -0,25% yoy, akibat normalisasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) setelah percepatan sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan menyampaikan fenomena ini mencerminkan transformasi ekonomi yang tengah berlangsung.
“Lapangan usaha industri pengolahan juga mengalami perbaikan kinerja didorong peningkatan aktivitas pengolahan migas setelah kapasitas kilang meningkat pada triwulan IV 2025,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).
Ia bilang, sektor industri pengolahan menyumbang andil pertumbuhan tertinggi sebesar 2,53% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan melampaui seluruh sektor lain termasuk pertambangan yang hanya berkontribusi 0,21% yoy.
Namun secara pangsa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pertambangan masih memimpin dengan 33,19%, diikuti industri pengolahan sebesar 20,61%.
Di sisi lain, sektor pertambangan khususnya batu bara tumbuh moderat seiring lonjakan permintaan dari mitra dagang untuk memenuhi kebutuhan energi musim dingin.
Kemudian, sektor perdagangan besar dan eceran menempati posisi kedua dalam kontribusi pertumbuhan dengan 0,78% yoy, didorong oleh mobilitas masyarakat dan kunjungan wisata saat momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyusul di urutan ketiga dengan andil 0,48% yoy. Menariknya, sektor konstruksi justru mencatatkan kontraksi dengan andil negatif -0,25% yoy.
Hal ini disebabkan normalisasi progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) setelah mengalami percepatan luar biasa pada tahun-tahun sebelumnya.
Adapun, BI mencatat lima lapangan usaha utama yang meliputi pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, dan perdagangan menguasai 82,88% dari total PDRB Kaltim.
Kemudian, sisanya tersebar di 10 lapangan usaha lain yang secara agregat hanya berkontribusi 11,10% seperti sektor jasa keuangan dan asuransi yang turut mencatatkan andil kontraksi sebesar -0,11% yoy.
Pewarta: Ruslan

















