CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, menilai serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran melanggar hukum internasional.
Serangan ini termasuk bentuk intervensi dan agresi ke teritorial negara lain yang mengganggu kedaulatan negara tersebut.
“Serangan tersebut tidak dapat dibenarkan, melanggar hukum internasional, dan bentuk terorisme nyata,” ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, Ahad, (1/3/ 2026).
Ia menilai, agresi AS dan Israel akan memicu ketegangan bukan hanya di kawasan Timur Tengah, tapi juga di dunia.
“Konflik Israel-Amerika Serikat vs Iran potensial menyulut perang regional bahkan perang dunia III, serta memorak-porandakan dunia Islam,” ingat Din Syamsuddin.
Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu juga menilai negara-negara Islam perlu bersatu melawan pelanggaran yang telah dilakukan AS dan Israel.
“Saatnya negara Anggota Organisasi Kerjasama Islam menunjukkan solidaritas terhadap sesama dengan menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan menentang segala bentuk serangan atas kedaulatan negara Islam,” tegasnya.
MUI Desak Pemerintah Keluar dari BOP
Melansir laman MUI, Majelis Ulama Indonesia secara resmi mendesak pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk keluar dari Board of Peace (BoP).
Pernyataan ini disampaikan MUI menanggapi serangan Amerika dan Israel terhadap Iran.
MUI menjelaskan, Amerika yang tengah memainkan peran sentral dalam pengelolaan konflik Palestina melalui BoP menghadapi pertanyaan besar: Apakah strategi tersebut sungguh diarahkan untuk perdamaian yang adil atau justru memperkuat arsitektur keamanan yang timpang dan mengubur kemerdekaan Palestina.
“Untuk itu, MUI mendesak pemerintah Indonesia agar mencabut keanggotaan dari BoP karena dipandang tidak efektif mewujudkan kemerdekaan sejati di Palestina,” kata MUI dalam Tausiyah yang dirilis pada Ahad (1/3/2026).
Tausiyah MUI dalam surat Nomor: Kep-28/DP-MUI/III/2026 ini ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan.
MUI menilai yang terjadi justru sebaliknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan serangan bersama Israel terhadap Iran.
Serta memicu perang regional yang melibatkan berbagai kekuatan, baik secara langsung maupun melalui proksi.
MUI mengajak umat Islam di berbagai belahan dunia agar terus melakukan qunut nazilah secara sungguh-sungguh.
Sekaligus berdoa memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT terhadap umat Muslim yang sedang mengalami kesulitan, penindasan, atau musibah di berbagai belahan dunia.
“MUI menyerukan kepada PBB dan OKI untuk langkah-langkah maksimal menghentikan perang dan menghormati hukum internasional. MUI berkeyakinan bahwa perang akan mendatangkan kemudhorotan global,” kata MUI.
Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur. MUI menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. MUI juga mendoakan agar Ali Khamenei menjadi penghuni
“MUI menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai akibat serangan Israel-Amerika pada (28/2/2026). Kita menyampaikan inna ilaihi raji’un, Sebagai syahada kita doakan semoga menjadi penghuni surga, Aamin,” tulisnya.
MUI mengutuk serangan Israel yang didukung oleh Amerika karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu “…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”
MUI memahami serangan Iran ke negara teluk sebuah pembalasan atas serangan Amerika dan Israel yang sasarannya adalah pangkalan militer.
Menurut MUI, serangan balasan Iran ini dibenarkan dan dilindungi oleh hukum internasional.
“Karena itu, untuk menghindari eskalasi yang lebih luas, maka Amerika dan Israel harus menghentikan serangan ke Iran karena serangan ini bertentangan dengan Pasal 2 (4) Deklarasi PBB,” tulis dalam poin ketiga.
MUI menilai serangan militer Israel dan Amerika terhadap Iran, kemudiaan telah dibalas Iran, merupakan eskalasi serius yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik terbuka yang lebih luas.
Pewarta: Puerto Andika

















