CENDANA NETWORK, DARIMEDIA.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, Indonesia mengalami 2.295 kejadian bencana sepanjang 1 Januari hingga 4 November 2026.
Bencana ini telah menyebabkan 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan lebih dari 6 juta orang terdampak.
Berdasarkan data BNPB per 4 November 2026, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana dengan porsi 99,21 persen.
Bencana hidrometeorologi ini meliputi banjir, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, kekeringan, tanah longsor, serta gelombang pasang dan abrasi.
Karhutla menjadi bencana dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 1.063 kejadian. Lalu banjir menyusul dengan 611 kejadian dan cuaca ekstrem sebanyak 351 kejadian.
Adapun kekeringan tercatat 125 kejadian dan tanah longsor 113 kejadian.
Selanjutnya, bencana geologi tercatat 0,79 persen. Untuk bencana geologi, BNPB mencatat 14 kejadian gempa bumi dan empat kejadian erupsi gunung api.
Secara keseluruhan, bencana sepanjang tahun ini juga menyebabkan 3.260 orang luka-luka dan 6.005.617 orang menderita serta mengungsi.
Dari sisi kerusakan, sebanyak 32.405 rumah mengalami rusak berat, 38.263 rumah rusak sedang, dan 86.987 rumah rusak ringan. Bencana juga merusak 2.391 satuan pendidikan, 926 rumah ibadat, 245 fasilitas pelayanan kesehatan, 773 kantor, serta 118 jembatan.
Update Karhutla: 2.835 Hektare Terbakar
Berdasarkan data BNPB per 4 November 2026, titik api masih terdeteksi di enam provinsi dengan total luas lahan terbakar mencapai 2.835 hektare.
Tiga wilayah dengan luasan terdampak paling parah meliputi Kalimantan Tengah seluas 2.195 hektare, Kalimantan Selatan seluas 405 hektare, dan Kalimantan Barat seluas 149 hektare.
Karhutla berdampak signifikan pada sektor kesehatan masyarakat.
Menukil data Kementerian Kesehatan RI yang dihimpun Komnas HAM, tercatat sebanyak 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tersebar di tujuh provinsi serta 63 kabupaten/kota akibat paparan kabut asap pekat.
Lonjakan kasus ISPA tersebut didominasi kelompok rentan yang sangat membutuhkan perlindungan ekstra.
Rincian data menunjukkan terdapat 91.913 kasus pada anak balita, 87.704 kasus pada anak usia 6 hingga 9 tahun, serta 56.092 kasus pada kelompok usia lanjut di atas 60 tahun.
Jumlah ini terus bergerak naik seiring dengan kepulan asap yang tak kunjung padam di lapangan.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengatakan lonjakan kasus terus terjadi setiap harinya di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan daerah.
“Jumlah ini sudah termasuk penambahan sebanyak 3.906 kasus baru berdasarkan data pemantauan per 2 November 2026 sore pukul 16.00 WIB,” kata Widyawati.
Ia menyampaikan data tersebut dalam program siaran Info Bencana Terkini BNPB, Rabu 4 November 2026. Kemenkes juga memberi perhatian intensif bagi kelompok dengan kondisi fisik yang memerlukan penanganan ekstra.
Pewarta: Widy

















